Denpasar, (pawartajatim.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menilai stabilitas industri jasa keuangan (IJK) di Pulau Dewata pada Februari 2026 tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Hal ini tercermin dari fungsi intermediasi tumbuh positif, profil risiko yang terjaga, dan likuiditas pada level yang memadai.
‘’Kinerja intermediasi perbankan (bank umum dan BPR) di Bali posisi Februari 2026 yang tercermin dari pertumbuhan kredit dan DPK berada dalam kondisi stabil dan tetap tumbuh positif,’’ kata Kepala OJK Bali Parjiman, Kamis (30/4).
Penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh sebesar 6,47 persen yoy menjadi Rp119,75 triliun (Februari 2025: 6,61 persen yoy). Sedangkan penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh 7,24 persen yoy menjadi Rp144,20 triliun (Februari 2025: 7,63 persen yoy).
Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit yoy masih didorong peningkatan kredit investasi yang tumbuh sebesar Rp 6,32 triliun atau 17,81 persen yoy (Februari 2025: 16,06 persen yoy), terutama ditopang sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estate.
Peningkatan pada kredit investasi menunjukkan kontribusi perbankan dalam mendukung pembiayaan ekspansi usaha demi mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Bali. Parjiman menyebut kredit konsumsi tumbuh 4,98 persen yoy dan kredit modal kerja termoderasi -2,45 persen yoy.
Sedangkan berdasarkan kategori debitur, sebesar 51,32 persen kredit di Bali disalurkan ke UMKM dengan pertumbuhan positif sebesar 4,71 persen yoy (Februari 2025: 4,86 persen yoy). Penyaluran kredit UMKM tersebut didominasi segmen usaha mikro dengan porsi sebesar 42,17 persen dan segmen usaha kecil sebesar 37,43 persen.
Penyaluran kredit UMKM di Bali masih lebih tinggi dibanding tingkat nasional, baik dari porsi kredit maupun pertumbuhan. Jika ditinjau berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi sektor bukan lapangan usaha sebesar 33,63 persen (tumbuh 4,98 persen yoy) dan sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 27,24 persen (tumbuh 1,38 persen yoy).
Pertumbuhan kredit disumbang peningkatan nominal penyaluran di sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan-minum yang bertambah sebesar Rp 2,20 triliun (tumbuh 16,82 persen yoy) dan sektor penerima kredit bukan lapangan usaha sebesar Rp 1,91 triliun (tumbuh 4,98 persen yoy).
Sementara itu, penghimpunan DPK tetap tumbuh positif sebesar 6,05 persen yoy mencapai Rp204,59 triliun (Februari 2025: 11,83 persen yoy). Berdasarkan jenisnya, peningkatan DPK ditopang kenaikan nominal tabungan sebesar Rp6,53 triliun.
Fungsi intermediasi masih menunjukkan tingkat yang positif tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) posisi Februari 2026 sebesar 58,53 persen. Kualitas kredit perbankan juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 2,62 persen lebih rendah dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya (Februari 2025: 3,13 persen.
Sedangkan NPL net berada di posisi 1,79 persen (Februari 2025: 2,20 persen. Penyelesaian kredit restrukturisasi dan ekspansi kredit berdampak positif bagi penurunan rasio loan at risk (LaR) menjadi 9,29 persen (Februari 2025: 11,94 persen).
Ketahanan BPR di Bali juga tetap kuat tercermin dari cash ratio (CR) dan capital adequacy ratio (CAR) terjaga di atas threshold, berturut-turut sebesar 14,74 persen dan 28,31 persen menjadi buffer mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global.
Jumlah investor pasar modal di Bali tetap menunjukkan pertumbuhan double digit dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya. Pada Februari 2026, jumlah investor di Provinsi Bali mencapai 381.557 single investor identification (SID) atau tumbuh 27,02 persen yoy (Februari 2025: 23,44 persen yoy).
Pertumbuhan tertinggi secara tahunan tercatat pada SID Saham. Sementara itu, nilai kepemilikan saham mencapai Rp 8,88 triliun atau tumbuh 76,57 persen yoy (Februari 2025: 7,87 persen yoy). (xx)











