Bingung Nyimpan Uang yang Aman Dimana…, Reksa Dana Aja?

Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana & Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Lilana (berdiri) saat menjadi nara sumber. (foto/bw)

Surabaya, (pawartajatim.com) – Bila dulu masyarakat menyimpan uang hanya mengenal menabung di bank atau deposito. Kini, para pemilik uang atau pemodal banyak cara menyimpan uang. Salah satunya di reksa dana. Apa itu reksa dana?

Devinisi reksa dana adalah sebuah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor) yang dikelola manager investasi professional untuk diinvestasikan ke dalam portofolio efek. Seperti saham, obligasi atau pasar uang.

Ini adalah solusi berinvestasi bagi pemula atau individu dengan keterbatasan waktu dan keahlian. Apalagi bila ingin melakukan diversifikasi untuk memperkecil resiko. Inilah beberapa poin penting bagi yang ingin mengatahui reksadana? Apalagi bagi pemodal muda atau kalangan Gen Z yang perlu diketahui?.

Yakni, pengelolaan profesional: Dana dikelola oleh manajer investasi berpengalaman. Diversifikasi: Mengurangi risiko dengan menyebarkan dana ke berbagai instrumen (saham, obligasi, pasar uang). Serta aksesibilitas: Dapat dimulai dengan modal kecil.

Bagi pemula, pengalaman nasabah reksa dana seperti Noer Soetantini, asal Surabaya ini perlu menjadi pertimbangan. Sebab, Noer Soetantini, yang akrab disapa Mbak Titin, ini memiliki pemikiran yang sederhana saat akan menyimpang uang di reksa dana.

‘’Alasannya karena menyimpan uang di reksa dana tidak perlu memantau. Cukup ikut reksa dana dengan system periode, uang pasti bertambah,’’ kata seorang nasabah Noer Soetantini, di Surabaya Selasa (5/5/2026).

Hanya saja, kata dia, menyimpan uang di reksa dana harus punya uang lebih. Artinya, bila menyimpan uang Rp 10 juta dengan periode 3 tahun, uang dipastikan akan bertambah bila jatuh tempo tiba.

‘’Yang jelas menyimpan uang di reksa dana tidak perlu memantau. Begitu jatuh tempo uang dipastikan bertambah,’’ ujarnya praktis. Kondisi demikian tidak akan terjadi bila pemilik modal menyimpan uang pada tabungan di bank.

‘’Bisa-bisa uang yang ditabung akan berkurang terus bila tidak pernah ditambahkan,’’ jelasnya. Bila melihat realita di lapangan, tak mengherankan jumlah investor reksa dana terus menunjukkan tren peningkatan.

Dimana berdasarkan data SID dari KSEI hingga akhir 2025 sebanyak 19,2 juta SID, tumbuh sebesar 3,23 persen dari 18,6 juta SID di akhir tahun 2024. Yang menarik untuk dicermati dari jumlah investor tersebut didominasi investor muda dan kalangan Gen Z yang berusia dibawah 30 tahun.

Yakni mencapai 54,24 persen dari total investor. ‘’Hal ini menunjukkan semakin banyak generasi muda di Indonesia yang paham berinvestasi. Dan itu sudah dimulainya sejak usia muda,’’ kata Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana & Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Lilana, ketika berbicara di Road to Pekan Reksa Dana 2026 di Surabaya Selasa (7/4/2026).

APRDI sendiri adalah organisasi yang mewadahi enam asosiasi yang terkait di industri reksa dana. Dan pelaku pengelolaan investasi di Indonesia, bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) terus berupaya mendorong peningkatan literasi dan inklusi reksa dana kepada masyarakat.

Pada 2026, kata Lolita Lilana, sinergi antara Asosiasi, OJK dan SRO untuk mendorong literasi serta inklusi reksa dana kepada masyarakat di Indonesia diwujudkan melalui peluncuran program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026) yang diawali dengan kegiatan ‘Road to Pekan Reksa Dana 2026’ dibeberapa kota di Indonesia.

Dalam kegiatan Road to Pekan Reksa Dana 2026 ini, APRDI dengan didukung oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengadakan roadshow di lima kota di Indonesia yang dimulai dari kota Surabaya 7 April 2026 lalu.

Kemudian dilanjut sosialisasi ke kota Semarang pada 9 April, Medan 14 April, Makassar 16 April, Bandung 20 April. Kegiatan SOSEDU APRDI 2026 di Surabaya dilaksanakan di Kantor OJK Provinsi Jawa Timur/Jatim dan di beberapa perguruan tinggi di Surabaya yang telah menjalin kerjasama dengan Galeri Investasi BEI.

Diantaranya, Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Kristen Petra, Universitas Airlangga, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA).

Sebagai acara puncak kegiatan SOSEDU ini, digelar pada 27 April 2026 akan diadakan seremoni peluncuran program PINTAR Reksa Dana dan kampanye #ReksaDanaAja serta Pekan Reksa Dana 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Lolita Lilana menjelaskan, inisiatif yang diperkuat melalui kampanye #ReksaDanaAja merupakan bagian dari langkah nyata para pelaku di industri untuk mendorong literasi dan inklusi reksa dana yang lebih luas di Indonesia.

Road to Pekan Reksa Dana 2026 ini akan menghadirkan kelas edukasi bagi jurnalis dan mahasiswa di lima kota di Indonesia. Melalui pendekatan ini, APRDI ingin mendorong partisipasi masyarakat secara aktif dan kreatif dalam meningkatkan pemahaman investasi reksa dana di Indonesia.

‘’Masyarakat diharapkan semakin menyadari pentingnya investasi yang terencana melalui reksa dana,’’ kata Lolita Lilana. Ia menyampaikan, industri reksadana masih membutuhkan inovasi dan kreativitas agar dapat membentuk produk-produk yang cocok dan diminati oleh masyarakat. Dukungan dan insentif masih dibutuhkan untuk membentuk dan membangun budaya berinvestasi.

Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur/Jatim, Yunita Linda Sari (no 5 dari kiri) saat foto bersama dengan pembicara lainnya. (foto/bw)

Sedangkan Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur/Jatim, Yunita Linda Sari, menyatakan industri reksa dana di Jatim juga menunjukkan pertumbuhan yang siginifikan. Tercatat total transaksi reksa dana mencapai sekitar Rp 4,96 triliun sepanjang 2025, tumbuh 54,60 persen (YoY).

Serta pertumbuhan investor reksa dana retail mencapai sekitar 141.861 SID, tumbuh 13,52 persen (YoY). Karena itu, kata dia, diperlukan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap karakteristik produk reksa dana.

Termasuk kesesuaian dengan profil risiko dan tujuan investasi. Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional, M. Maulana, menyampaikan, sebagai upaya yang terstruktur, masif, dan berkelanjutan untuk mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Yakni, diperkenalkan Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana atau PINTAR Reksa Dana sebagai salah satu inisiatif strategis untuk menjembatani potensi besar tersebut dengan realisasi partisipasi masyarakat yang lebih luas.

Seperti diketahui, dana kelolaan (AUM) industri reksa dana di Indonesia pada akhir 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 35,06 persen menjadi Rp 679,24 triliun jika dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp 502,92 triliun.

Sedangkan secara total dana kelolaan investasi mengalami kenaikan sebesar 25,19 persen dari Rp 804,87 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp 1.007,65 triliun pada akhir 2025. Dana kelolaan ini merupakan yang tertinggi setelah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukan pertumbuhan yang stagnan.

Pertumbuhan AUM reksa dana yang paling tinggi di 2025 adalah jenis Reksa Dana Pendapatan Tetap dilanjutkan dengan jenis Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Teproteksi dan Reksa Dana Saham. Sedangkan jenis reksa dana yang mengalami penurunan adalah Reksa Dana Indeks.

Hal ini menunjukkan profil investor Indonesia yang cenderung masih konservatif – moderat dalam berinvestasi. Adapun kinerja reksa dana tertinggi berdasarkan indeks reksa dana dari data Pasardana.id pada akhir tahun 2025 adalah Reksa Dana Saham sebesar 17,23 persen, Reksa Dana Campuran 12,48 persen, lalu Reksa Dana Pendapatan Tetap sebesar 6,96 persen, dan Reksa Dana Pasar Uang sebesar 3,18 persen.

Pencapaian kinerja Reksa Dana Saham ini sejalan dengan kinerja positif pasar saham Indonesia yang ditandai dengan pertumbuhan IHSG di tahun 2025 sebesar 22,13 persen. Pada peluncuran Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (Pintar Reksa Dana) yang dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Wisyasari Dewi bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa serta pejabat lain, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4/2026) berlangsung meriah.

PELUNCURAN PROGRAM – Peluncuran program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (Pintar Reksa Dana) yang doihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Wisyasari Dewi bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa serta pejabat lain, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, pada Senin (27/4/2026). (foto/ist)

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Wisyasari Dewi, menjelaskan, program ini sejalan dengan program delapan rencana aksi reformasi integritas pasar modal Indonesia yang menyebut penguatan integritas tidak hanya didukung kualitas tata Kelola.

Tetapi didukung perluasan partisipasi masyarakat sebagai investor di pasar modal. “Program ini juga menjadi bagian dari reformasi sistemik untuk memperkuat peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional,” kata Friderica.

Sedangkan, Purbaya, menyatakan kondisi pasar modal Indonesia saat ini sudah membaik dan aman bagi investor untuk terus menambah investasi. Termasuk melalui program Pintar Reksa Dana.

‘’Pengawasan di pasar modal sudah diperbaiki. Investasi di pasar modal dijamin keamanannya. Pasar modal kita memperbaiki integritasnya dengan baik. Untuk ke depan, ini adalah tempat yang aman untuk berinvestasi,” tegasnya.

Menurut Purbaya, tata kelola atau integritas adalah hal yang mutlak dalam pengelolaan pasar modal Indonesia. Karena dengan pasar yang bersih, investor domestik merasa aman dan investor global pun akan melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang kredibel.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam mengatakan peluncuran Program Pintar Reksa Dana menjadi momentum strategis dalam upaya OJK dan seluruh stakeholders untuk mendorong dan mempercepat inklusi investasi, khususnya di kalangan generasi muda.

Pendalaman pasar harus dilakukan secara terintegrasi melalui upaya sinergi dari seluruh stakeholders. ‘’Program Pintar Reksa Dana yang dikolaborasikan dengan program Simuda merupakan langkah konkret untuk memperluas akses dan mendorong partisipasi masyarakat lebih luas, termasuk investor pemula,” tegas Hasan.

Menurut dia, OJK mendorong partisipasi aktif asosiasi dalam melakukan mekanisme self control serta mengenal perilaku market conduct yang dilakukan anggota sebagai bentuk pencegahan dini terhadap potensi praktik yang tidak sesuai dengan ketentuan.

“Pendalaman pasar tidak hanya diukur dengan peningkatan angka jumlah investor. Tetapi upaya memperkuat kualitas ekosistem pasar. Pelaku industri diharap terus berperan aktif sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat,” ungkap Hasan.

Pintar Reksa Dana diharap terus berkembang menjadi program dan kampanye nasional yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Di masa depan, program ini diharap memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas dalam membangun kebiasaaan berinvestasi yang sehat sejak dini.

Menurut Hasan, pelaku industri yang berkomitmen bergabung dalam program Pintar Reksa Dana meliputi 30 manajer investasi dan 26 Aperd. Peluncuran Pintar Reksa Dana juga dilakukan bersamaan dengan pembukaan Pekan Reksa Dana 2026 oleh Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI). (bambang wiliarto)