Penyaluran Kredit di Bali Tumbuh 6,91 Persen, Dana DPK Lambat

BERI PENJELASAN - Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman (tengah), memberi penjelasan kepada wartawan saat Ngorte (Ngobrol Bersama Update Berita With Media) di Kantor OJK Bali, Denpasar, Selasa (15/9/2026). (foto/yad)

Denpasar, (pawartajatim.com) – Penyaluran kredit pada bank-bank yang berkantor di Bali mencakup 31 persen dari total kredit yang bertumbuh pada level 6,91 persen (year on year/yoy). Sedangkan kalau dilihat pada dana pihak ketiga (DPK), malah terjadi perlambatan pertumbuhan dari 9,42 persen menjadi hanya 4,83 persen (yoy).

Penegasan itu dikemukakan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, Parjiman, saat Ngorte (Ngobrol Bersama Update Berita With Media) di Kantor OJK Bali, Denpasar, Selasa (15/9/2026).

Dia menambahkan perlambatan ini terutama diakibatkan perlambatan pertumbuhan pertumbuhan deposito. ‘’Sebetulnya masih tumbuh, tetapi tumbuhnya melandai atau menurun,’’ kata Parjiman.

Menurut dia, hal yang agak sifnifikan yakni deposito dari 10 persen hanya menjadi 0,38 persen dan tabungan dari 10,23 persen menjadi 4,48 persen. Tetapi hal tersebut terjadi mayoritas pada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan bank umum swasta nasional. Parjiman menambahkan bahwa turunnya DPK maupun kredit termediasi menunjukkan trend yang justru meningkat yaitu dari 57,31 persen menjadi 59 persen pada posisi Juli 2026.

‘’Penurunan kredit lebih kecil daripada penurunan DPK sehingga loan to deposit ratio (LDR)-nya meningkat,’’ ungkap Parjiman. Khusus untuk perbankan yang berkantor pusat di Bali (BPD dan BPR) LDR-nya lebih tinggi jika dibandingkan dengan Bank Himbara maupun bank swasta nasional yakni pada posisi 75,38 persen.

Jika dilihat pada multi-purpose loan (MPL) atau kredit multiguna pada Juli 2026 berada pada level terjaga yakni di bawah 5  persen. ‘’Alhamdullilah ini kecenderungannya membaik atau menurun,’’ tambah Parjiman. Jika kredit dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, investasi masih mendominasi kredit pada perbankan di Bali.

Porsinya berada pada 37,01 persen yang berarti tumbuh signifikan daripada sebelumnya yakni pada level 13,61 persen menjadi 23,25 persen (yoy). Pertumbuhan kredit tersebut terutama didorong sektor akomodasi, makan-minum (akmamin), sedangkan kredit modal kerja malah terkontraksi -2,67 persen (yoy) terutama akibat penurunan pada sektor perdagangan.

Mengenai lima sektor perkembangan kredit di Bali, Parjiman menyebut bahwa sektor akmamin, pertanian dan jasa kemasyarakatan, mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding pada Juli 2025.

Disisi lain, mengenai perdagangan bukan lapangan usaha (konsumtif) cenderung melandai. Hal ini mengindikasikan mulai terjadi perubahan porsi kredit ke sektor riil yang lebih produktif.

Jika dilihat mengenai kredit untuk UMKM di Bali, Parjiman menyebut mencapai 50,47 persen daripada total kredit pada posisi Juli 2026. Tumbuhnya lebih tinggi jika dibanding posisi Juli 2025 yakni sebesar 3,15 persen.

Berdasarkan skemanya: ada kredit mikro-kecil dan menengah, di mana yang terbesar ada pada kredit usaha mikro yakni 41,78 persen, sedangkan usaha kecil 38,60 persen, serta usaha menengah sebesar 19,62 persen.

Tentang perkembangan pasar modal di Pulau Dewata, menurut Parjiman, menunjukkan pertumbuhan investor yang cukup kuat, karena tumbuh 34,42 persen, lebih tinggi dibanding pada Juli 2025 yakni 20,21 persen.

Total SID mencapai lebih dari 443.000, sejalan dengan upaya yang dilakukan OJK dalam rangka meningkatkan jumlah SID di Provinsi Bali. Jika dilihat pada instrumennya, peningkatan terbesar terjadi di sektor reksadana yang tumbuh 34,58 persen alias meningkat daripada sebelumnya yakni 20,22 persen.

Sedangkan aktivitas transaksi sahamnya secara yoy melambat dari 65,27 persen menjadi 46,94 persen. Untuk kepemilikan saham, tumbuh 30,43 persen menjadi 35,95 persen. ‘’Kalau kita lihat kepemilikan sahamnya naik, tetapi yang ditransaksikan turun. Hal ini bisa diartikan bahwa investor di pasar modal cenderung tidak aktif atau meng-hold sahamnya sehingga tak diperdagangkan, mungkin wait and see atau melihat perkembangan selanjutnya,’’ tandas Parjiman. (yad)