
Jakarta, (pawartajatim.com) – Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 April 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) terjaga di tengah dinamika perekonomian global. Kinerja perekonomian global dihadapkan pada berlanjutnya ketidakpastian kondisi geopolitik, meskipun terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan AS dan Israel pada 8 April 2026.
Demikian keterangan yang diperoleh wartawan pada Rabu (6/5/2026). Sedangkan ekonomi nasional (Indonesia) tumbuh solid di level 5,61 persen, ditopang kontribusi konsumsi rumah tangga dan peningkatan pengeluaran pemerintah.
Dari sisi indikator permintaan, indeks keyakinan konsumen masih berada di zona optimis meskipun termoderasi, pertumbuhan penjualan ritel menjadi sebesar 2,4 persen yoy dan penjualan kendaraan bermotor terkontraksi secara tahunan.
Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, dengan neraca perdagangan yang surplus sebesar 1,2 miliar dolar AS. Pasar saham domestik pada April 2026 menunjukkan pergerakan yang dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan dunia.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.956,80, terkoreksi 1,30 persen secara mtm atau 19,55 persen secara ytd. Namun di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik secara keseluruhan tetap manageable.
Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread di pasar saham domestik tetap terjaga di level rendah yaitu sebesar 1,33 kali (Maret 2026: 1,55 kali). Ada pun rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di pasar saham pada periode laporan tercatat sebesar Rp 18,51 triliun, mengalami moderasi dibanding angka RNTH pada Maret 2026 (Rp 20,66 triliun) seiring langkah wait-and-see pelaku pasar.
Sementara itu, investor asing pada bulan tersebut membukukan net sell di saham sebesar Rp 17,02 triliun (Maret 2026: net sell Rp 23,34 triliun). Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir April 2026 ditutup pada level 436,38; menguat 0,74 persen mtm atau turun 1,01 persen ytd.
Ada pun yield surat berharga negara (SBN) pada periode yang sama secara rata-rata mengalami penurunan sebesar 3,90 bps mtm atau naik 50,61 bps ytd, di tengah dinamika persepsi risiko akibat ketidakpastian global.
Secara mtd, investor asing membukukan net buy di pasar SBN Rp 8,80 triliun (ytd: net sell Rp16,29 triliun) dan di pasar obligasi korporasi net buy sebesar Rp0,04 triliun sepanjang April 2026 (ytd: net buy Rp 0,01 triliun).
Industri pengelolaan investasi mencatat kinerja positif pada bulan laporan, dengan nilai asset under management (AUM) per 29 April 2026 yang mencapai Rp 1.072,64 triliun, meningkat 1,53 persen mtd dan 2,87 persen ytd.
Ada pun nilai aktiva bersih (NAB) Reksa Dana tercatat sebesar Rp711,89 triliun, tumbuh positif 2,32 persen mtd dan 5,41 persen ytd. Kinerja industri Reksa Dana yang tetap terjaga ditopang kecenderungan investor Reksa Dana untuk melakukan subscription, dengan angka net subscription sebesar Rp 8,11 triliun secara mtd dan Rp 37,24 triliun secara ytd.
Jumlah investor di pasar modal dalam negeri melanjutkan tren peningkatan, dengan penambahan sebanyak 1,74 juta investor baru pada April 2026 (mtm). Dengan perkembangan tersebut, secara ytd jumlah investor di pasar modal tumbuh 30,06 persen menjadi 26,49 juta investor.
Pasar modal domestik terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi. Hingga April 2026 (ytd), nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp 56,35 triliun, terdiri atas satu penawaran umum saham perdana (IPO), satu penawaran umum terbatas (PUT), enam penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS), dan 44 penawaran umum Berkelanjutan EBUS.
Sementara pada pipeline, terdapat 71 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp 49,84 triliun. Penggalangan dana oleh dunia usaha melalui securities crowdfunding (SCF) pada April 2026[2] terdapat 24 efek baru serta tujuh penerbit baru, dengan dana dihimpun senilai Rp 36,18 miliar.
Dengan perkembangan tersebut, total nilai dana dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp 1,93 triliun. Di pasar derivatif keuangan, sejak 10 Januari 2025 hingga 30 April 2026, terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK.
Volume transaksi tercatat sebanyak 33.884 lot pada April 2026 (mtm), sehingga secara agregat telah mencapai 143.217 lot. Sementara di bursa karbon, sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 30 April 2026.
Secara total tercatat 155 pengguna jasa yang telah terdaftar. Secara agregat, volume transaksi tercatat sebanyak 1,98 juta tCO2e, dengan akumulasi nilai transaksi mencapai Rp 93,75 miliar. (01/r)










