Turyapada Tower, Jadi Pariwisata Baru Berkelas Dunia di Bali

TINJAU TURYAPADA TOWER - Gubernur Bali, Wayan Koster (kanan) saat meninjau Turyapada Tower beberapa bulan lalu. (foto/ist)

Denpasar, (pawartajatim.com) – Kawasan Turyapada Tower di Desa Wanagiri, Sukasada, Buleleng, diprediksi menjadi obyek wisata baru berkelas dunia. Padahal, Pulau Bali sudah dikenal lebih men-dunia daripada negara Indonesia. Apalagi, janji Gubernur Bali Wayan Koster, yang menyatakan,  pembangunan kawasan Turyapada Tower bukan asal bangun.

‘’Lokasi yang dipilih di Wanagiri ini telah berdasarkan kajian Tim Unud. Yaitu, tower yang mampu menjangkau siaran televisi mencapai minimum 85 persen di wilayah Bali Utara,’’ kata Gubernur Bali, Wayan Koster, kepada wartawan di Denpasar Senin (18/5/2026).

Menurut dia, jika tower ini sudah jadi, maka akan menjadi destinasi pariwisata baru berkelas dunia dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Bali Utara serta berdampak bagi wilayah Bedugul sampai Wanagiri.

‘’Kawasan Turyapada Tower akan menjadi satu-satunya objek wisata berkelas dunia di Indonesia. Karena tidak kalah dengan menara Eifel, Tokyo Tower, Toronto Tower,’’ tegas Koster. Ia menyatakan, kawasan ini akan dikelola secara profesional oleh pihak ketiga guna menghasilkan pendapatan secara optimal.

Dan ini, kata dia, bakal menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) untuk Pemprov Bali dan menjadi PAD melalui pajak hotel, dan restoran untuk Pemkab Buleleng. Pemilihan pihak ketiga baru bisa dilaksanakan setelah pembangunan tahap dua mendekati selesai.

TINJAU TURYAPADA TOWER – Gubernur Bali, Wayan Koster (kiri) saat meninjau Turyapada Tower beberapa bulan lalu. (foto/ist)

Sehingga bisa dihitung potensi bisnis yang akan dikelola oleh pihak ketiga. ‘’Dengan demikian pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan kawasan akan mengembalikan anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan kawasan Turyapada Tower dalam jangka waku kurang dari sepuluh tahun,’’ ungkap Gubernur Bali.

Setelah itu, lanjut Koster, akan menjadi sumber pendapatan Pemprov Bali untuk selamanya. Di samping itu, masyarakat lokal akan membentuk koperasi dan UMKM untuk berjualan di kawasan se tempat.

Anak-anak warga lokal pun mendapat prioritas mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai kompetensi serta keterampilan yang diperlukan agar bisa bekerja di sana. Bahkan, tenaga kerja yang diperlukan saat ini direkrut dari warga lokal.

Dengan demikian, dipastikan warga lokal akan mendapat manfaat ekonomi dan menjadi tenaga kerja, tidak akan menjadi penonton. Koser menyebut, rumah warga lokal sekitar 40 keluarga akan direnovasi menjadi rumah layak huni dan lebih berkualitas.

Sehingga harmonis dengan suasana kawasan Turyapada Tower, dengan biaya penuh dari APBD Provinsi Bali. Selain itu, menurut dia, Pemprov Bali akan membangun pura dan wantilan sesuai permohonan Desa Adat Merta Sari, Desa Pegayaman, yang menjadi lokasi kawasan Turyapada Tower, dengan anggaran APBD Perubahan tahun 2026.

Berikutnya lahan yg menjadi lokasi adalah lahan milik petani yang biasa menanam bunga. Karena tanaman lain tidak cocok di sana. Luas lahan yang dibebaskan total 13,9 hektare dengan anggaran Rp 63,4 miliar.

Tahap 1 seluas 6,6 hektare dengan anggaran Rp 22,4 miliar dan tahap dua seluas 7.3 hektare dengan anggran Rp 41,0 miliar. Pembebasan lahan dilakukan sesuai aturan dan besaran harga ditentukan oleh lembaga independent.

Yaitu, Kantor Jasa Penilai Publik/KJPP serta atas kesepakan warga pemilik lahan berdasarkan musyawarah. Penggunaan uang negara untuk pembebasan lahan diaudit oleh BPK. Sehingga tidak boleh main-main dalam menentukan harga secara sepihak.

Pembangunan tahap1 berupa tower serta fasilitas berupa planetarium, restoran putar 360 derajat, sky walk, restoran statis, jembatan kaca, ruang convention, dan tempat UMKM. Pembangunan tahap satu sudah selesai, yang memerlukan total anggaran Rp 349,3 miliar.

Saat ini, kata dia, dilangsungkan pembangunan tahap dua berupa pemasangan interior, furnitur, penataan kawasan, fasilitas gondola, dan jalan masuk. Target selesai pada November 2026 yang memerlukan total anggaran Rp 295,7 miliar.

‘’Dengan demikian pembangunan kawasan Turyapada Tower memerlukan total anggaran Rp 645,0 miliar,’’ ungkap Gubernur Koster.  Menurutnya, tower mulai berfungsi yang dimanfaatkan oleh 30 stasiun televisi.

Sehingga lebih dari 90 persen masyarakat Buleleng sudah bisa menerima siaran televisi tanpa antena parabola lagi. Bahkan sampai wilayah Jembrana. Masyarakat Buleleng juga disebut sangat merasakan manfaat Turyapada Tower.

Pemilik siaran televisi tidak perlu lagi repot-repot menyewa/membeli lahan dan membangun tower secara sendiri-sendiri. Dengan hadirnya Turyapada Tower, semua setasiun televisi cukup bekerja sama melalui pola sewa dengan Pemprov Bali. (suy)