
Gresik, (pawartajatim.com) – Minimnya nilai tambah terhadap masyarakat sebagi dampak banyaknya industri di Gresik mengusik beberapa pihak. Salah satunya adalah Perkumpulan Lokal Media Network/LMN yang digawangi tiga jurnalis senior di Kota Pudak.
Perkumpulan ini mencoba mengurai benang kusut ekonomi dengan menggelar diskusi bertajuk ‘Ngopi dan Opini Gresik’ di Paddock Caffe Desa Abar-Abir Kecamatan Bungah Gresik, Rabu (20/5). Tema diskusinya pun menggelitik yaitu ‘Gresik Dibanjiri Investasi, Rakyat Dapat Apa?’.
Nara sumber yang dihadirkan juga tidak kaleng-kaleng. Yaitu, berbagai kalangan khususnya anak muda. Dan tujuan ngopi bareng ini sebagai sarana dialog dan menyerap aspirasi warga menghadapi pertumbuhan industri yang begitu pesat, terutama di wilayah Gresik Utara.
Pada kali ini, dua narasumber kompeten yang dihadirkan. Yakni, Santi Wahyu Lestari dari Bidang Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gresik dan Fajar Rubianto dari Pemerhati Sosial.
Jalannya diskusi berlangsung gayeng dan interaktif. Banyak hal yang dibahas. Mulai pertumbuhan investasi, multiplier effect perusahaan terhadap kesejahteraan warga sekitar. Hingga peluang tenaga kerja lokal.
Sekretaris Tim LMN Akhmad Sutikon, mengatakan, diskusi digelar dengan tujuan untuk memberikan wawasan sekaligus duduk bersama seluruh kalangan termasuk anak muda agar mempersiapkan diri. Sehingga, semua pihak bisa tampil dan mengambil peran di tengah pertumbuhan industri yang begitu cepat.

“Gagasan diskusi ini sebagai sarana berdialog dan saling bertukar gagasan. Sehingga menjadi stimulus bagi semua pihak untuk mempersiapkan diri menghadapi pertumbuhan industri yang begitu cepat. Terutama di wilayah Gresik Utara,” kata Sutikon.
Menurut Sutikon, pertumbuhan industri yang begitu pesat akan berdampak terhadap perubahan di seluruh sektor. Mulai ekonomi hingga kondisi sosial. Karena itu sangat penting meningkatkan wawasan dan kesadaran serta menjaga solidaritas internal masyarakat untuk menghadapi peluang dan tantangan ke depan.
Outputnya adalah bagaimana nantinya pertumbuhan industri bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Ini yang menjadi target utama, karena sejauh ini yang kita rasakan bersama adalah keberadaan industry.
”Faktanya belum cukup mampu mengangkat ekonomi masyarakat lokal,” kata pria yang jago IT khususnya pertelevisian ini di Gresik Rabu (20/5). Untuk itu, kata dia, diskusi ini diharapkan menjadi bahan kajian yang mendalam sekaligus bisa menjadi wadah menampung masukan masyarakat berbagai kalangan.
Termasuk anak muda ke depan untuk menyiapkan diri menghadapi pertumbuhan industri yang begitu pesat. Terutama di wilayah Gresik Utara. Peserta diskusi diberi kesempatan untuk urun rembuk atau menyampaikan keluhan maupun apapun yang dirasa kurang pas.
“Tentu kami butuh partisifasi aktif dari seluruh komponen masyarakat. Rencananya tiap bulan kami akan menggelar diskusi di tiap kecamatan di wilayah Gresik Utara, dengan tema, narasumber, serta peserta yang berbeda,” jelasnya.
Hadir dalam diskusi tersebut, Rektor Universitas Gresik (Ungres) Dr Rian Pramana, Direktur Utama PT Gresik Propertindo Ali Muksin Djalil, Ketua Komite Nasional Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (Komnas PPLH) Gresik Hilal Ulfi, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Masyarakat Gresik Peduli Kemanusiaan (MGPK) Abdul Wahab, perwakilan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Gresik, segenap tamu undangan serta puluhan peserta lain.
Sementara itu, M. Sholeh Ketua LMN, menambahkan pihaknya akan terus mengkritisi dampak pertumbuhan ekonomi di Gresik. Dan turut mencarikan solusi yang kondusif. Sehingga ada nilai tambah yang didapat masyarakat.
“Bulan depan akan kami gelar lagi pertemuan semacam ini, tempatnya di salah satu kafe Sidayu,” jelas pria yang sudah 3 windu malang melintang di dunia jurnalistik ini. (dra)










