Ketika Kekaguman Tak Berhenti Menjadi Sekadar Cerita

Erwan Widyarto, (foto/ist)

Oleh: Juragan Erwan (Jurnalis dan Pendamping Desa Wisata)

ADA catatan dan pelajaran menarik yang saya peroleh dari tulisan yang dibagikan Mas Aqua berjudul ‘Meneladani Prof BJ Habibie, Makin Produktif Saat Puasa’. Kendati tulisan tersebut dibagikan sudah cukup lama, hampir sekira dua bulan lalu yakni pada 2 Maret 2026, catatan saya ini bukan ‘catatan basi’. Bukan pula ‘catatan basa-basi’.

Catatan ini justru membuktikan apa yang ditulis Aqua Dwipayana selama ini, sangat aktual dan relevan. Tidak mengenal kebasian. Bisa dibaca kapan pun, di manapun oleh siapa pun. Seperti iklan jadul minuman dari Paman Sam itu.

Bagi kebanyakan orang, tulisan tersebut mungkin sesuatu yang sederhana. Sekadar kisah pengalaman pribadi Aqua bersama B. J. Habibie. Tetapi bagi saya, sebagai penulis buku ‘Produktif Sampai Mati’ — ada kata ‘produktif’ juga di tulisan yang dibagi– tertarik membacanya lebih dalam. Mengapa?

Saya melihat tulisan tersebut  justru memotret fondasi karakter yang sangat kuat: konsistensi, komitmen, dan cara pandang hidup yang konstruktif. Tiga karakter yang tertanam pada sosok Motivator Nasional, yang Anda semua tahu, sangat produktif ini.

Ada lima catatan yang bisa saya bagikan dalam memotret tulisan soal Habibie ini.

Pertama, tentang konsistensi yang tidak retoris.

Aqua tidak berhenti pada kekaguman. Banyak orang terinspirasi oleh sosok besar, tetapi berhenti di level cerita. Yang menarik, ia menunjukkan transisi dari kagum menjadi praktik. Ketika melihat Habibie konsisten berpuasa Senin-Kamis—bahkan sejak di Jerman—Aqua tidak sekadar mencatat itu sebagai ‘keunikan tokoh’, tetapi menginternalisasikannya sebagai disiplin personal.

Konsistensi ini bukan instan, melainkan dilatih sejak kecil, lalu ‘dikuatkan’ oleh teladan. Di sini terlihat bahwa bagi Aqua, inspirasi harus berujung pada repetisi perilaku.

Kedua, komitmen yang melahirkan identitas.

Ada pergeseran penting dalam narasi: dari ‘meneladani’ menjadi ‘membuktikan’. Ketika ia mengatakan bahwa puasa justru membuatnya makin produktif, itu bukan lagi imitasi, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas dirinya.

Di titik ini, kita melihat bagaimana komitmen bekerja. Bukan sekadar menjalankan kebiasaan, tetapi menjadikannya sebagai cara hidup. Sebagai motivator dan pakar komunikasi, kredibilitas Aqua justru lahir dari sini.

Ia tidak menjual konsep kosong, tetapi pengalaman yang telah diuji berulang. ‘Injak gas saat puasa’ bukan jargon, melainkan refleksi dari habit yang konsisten.

Ketiga, sudut pandang positif sebagai kerangka berpikir.

Inilah ciri paling menonjol. Aqua tidak melihat puasa sebagai pembatas energi, tetapi sebagai pengungkit produktivitas. Ia juga tidak melihat jadwal padat sebagai beban, melainkan sebagai ruang aktualisasi.

Bahkan dalam interaksinya dengan Habibie, yang ditangkap bukan jarak intelektual atau status, tetapi keteladanan, kehangatan, dan nilai yang bisa dipetik. Cara pandang seperti ini bukan bawaan lahir, melainkan hasil latihan mental. Memilih fokus pada hal yang menguatkan, bukan melemahkan.

Ini yang kemudian menjadi kekuatan seorang komunikator—ia mampu membingkai realitas dengan perspektif yang memberdayakan.

Keempat, kemampuan mengambil hikmah lintas posisi.

Menarik bahwa AQUA menempatkan dirinya sebagai pembelajar, meskipun ia adalah satu-satunya wartawan daerah di antara media besar. Alih-alih merasa inferior, ia justru menangkap peluang untuk belajar langsung dari tokoh besar seperti Habibie.

Bahkan, hal yang bagi orang lain tampak sepele—puasa Senin-Kamis—ditangkap sebagai strategi produktivitas. Di sinilah terlihat kedewasaan berpikir. Kemampuan mengambil nilai dari siapa pun, tanpa terhalang oleh perbedaan posisi, latar belakang, atau level pencapaian.

Kelima, konsistensi narasi dan praktik hidup.

Tulisan yang dibagikan Aqua ini juga mencerminkan satu hal penting. Yakni, tidak ada jarak antara apa yang ia ceritakan dan apa yang ia jalani. Agenda padat ke Sumatera dan Sulawesi saat Ramadan bukan sekadar informasi, tetapi bukti konkret dari prinsip yang ia yakini.

Ini penting, karena dalam dunia motivasi dan komunikasi, masalah terbesar sering kali adalah diskoneksi antara kata dan laku. Aqua justru mempersempit –bahkan menghilangkan– jarak itu.

Menurut keyakinan saya, tulisan ini bukan hanya tentang Habibie, tetapi tentang bagaimana seseorang membangun dirinya melalui keteladanan yang dipraktikkan secara konsisten.

Aqua Dwipayana menunjukkan bahwa inspirasi tidak cukup dikagumi—ia harus dihidupkan. Dan dari situlah lahir kredibilitas. Yakni ketika komitmen berulang berubah menjadi karakter, lalu karakter itu terbaca jelas dalam setiap kata dan tindakan. Bagaimana menurut Anda?. (*)