
Gunung Kidul, (pawartajatim.com) – Pedesaan di Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DI Yogyakarta, sejak 2016 dikenal sebagai ‘Desa Rentenir’. ”Julukan yang tidak enak didengar itu harus diakui karena memang pada setiap sudut perkampungan di desa itu banyak ditemukan berkumpulnya rentenir yang menawarkan pada warga setempat untuk pinjam uang,’’ kata Kepala Desa atau Lurah Kalurahan Bendung, Didik Rubiyanto, saat menerima kunjungan Otoritas Jasa Keuangan/OJK Jatim yang membawa serta 49 wartawan (online, radio dan televisi) saat media gathering pada 27-29 Oktober di Yogyakarta.
‘’Saking miskinnya warga saya, setiap pagi banyak rentenir yang datang di pojok perkampungan kelurahan itu untuk menawarkan uang kepada penduduk setempat,’’ kata Didik Rubiyanto. Setidaknya, Didik Rubiyanto, yang juga berasal dari Surabaya ini, menyampaikan laporan kepada dua pejabat OJK Jatim dan Yogyakarta.
Yakni, Plt Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran, dan Kepala OJK Daerah Istimewa Yogyakarta, Eko Yunianto. Didik mengenang, saat awal datang ke Desa Bendung Gunung Kidul ini.
Menurut dia, warga desa di sini terbilang miskin. Karena itulah, Kabupaten Gunung Kidul khususnya Kapanewon Semin yang dipimpin Lurah Bendung, Didik Rubiyanto, menyebutnya sebagai ‘Desa Rentenir’.
Namun, berkat sentuhan OJK Yogyakarta, lambat laun Desa Bendung menjadi Desa Mandiri Pangan yang memiliki Sumber Daya Manusia/SDM yang handal. Seperti apa, sentuhan OJK yang dikenalkan kepada Desa Bendung ini.

Diantaranya, pengembangan inklusi keuangan yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi produktif pada masyarakat. Dengan model seperti ini, upaya desa untuk memperluas akses pembiayaan formal sekaligus mengurangi ketergantungan warga terhadap rentenir atau bank titil serta pengaruh dari pinjaman online ilegal.
Kalurahan Bendung menjadi salah satu lokasi pembelajaran karena mengembangkan pendekatan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal melalui program Lumbung Pangan Mataraman.
Program ini mengintegrasikan pertanian, hortikultura, peternakan serta pemberdayaan kelompok masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan warga.
Didik Rubiyanto, mengatakan, pengembangan Lumbung Pangan Mataraman diarahkan untuk menjadikan potensi lokal sebagai sumber penghidupan masyarakat. Keterlibatan kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi bagian penting dalam mengembangkan kegiatan ekonomi produktif secara bersama-sama.

Prinsip yang kami dorong adalah bagaimana masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi. Melalui pertanian, peternakan (penggemukan domba), dan pengembangan usaha produktif.
Didik menyebut potensi kalurahan dapat memberikan nilai tambah bagi keluarga. Ketika pendapatan dan kemandirian ekonomi semakin kuat, masyarakat diharapkan memiliki pilihan yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan keuangannya.
Plt Kepala OJK Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran, mengatakan, kunjungan OJK Jatim dengan mengajak 49 media ini dimaksudkan ingin menyebarluaskan apa yang dilakukan Desa Bendung Gunung Kidul DI Yogyakarta ini agar diteladani desa-desa lainnya yang ada di Jatim.
‘’Bayangkan, dari ‘Desa Rentenir’ Kelurahan Bendung dalam waktu relative singkat lima tahun menjadi kelurahan produktif mandiri pangan dengan SDM lokal yang handal,’’ kata Horas, saat memberi sepatah dua kata.
Sedangkan Kepala OJK DI Yogyakarta, Eko Yunianto, menyampaikan pengembangan inklusi keuangan perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Akses terhadap layanan keuangan formal perlu dibarengi kemampuan warga dalam mengelola keuangan dan memilih produk pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan
Warga desa juga perlu memiliki sumber pendapatan yang produktif, pemahaman keuangan yang memadai, serta akses terhadap pembiayaan yang aman dan sesuai kebutuhan. Pengalaman Kalurahan Bendung dapat menjadi pembelajaran bagaimana pemberdayaan ekonomi lokal dan inklusi keuangan saling mendukung. (bw)










