Sokong Kemajuan Pendidikan Indonesia, ITS Kukuhkan Lima Profesor Baru

(dari kiri) Prof Dr Sholiq ST MKom MSA, Prof Dr Mahmud Yunus MSi, dan Prof Silvianita ST MSc PhD yang dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-239, 240, dan 241 ITS. (foto/ist)

Surabaya, (pawartajatim.com) – Sebagai poros pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) secara resmi kembali mengukuhkan lima guru besar baru, Kamis (11/6). Melalui Sidang Terbuka Dewan Profesor ITS yang berlangsung di Auditorium Research Center ITS, pengukuhan kelima guru besar tersebut menjadi angin segar dalam peningkatan kualitas akademik di Indonesia.

Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyampaikan bahwa dalam jabatan akademik tertinggi ini bukanlah sekadar akhir dari pencapaian akademik. Namun, Bambang menegaskan, gelar profesor memberikan tanggung jawab baru yang lebih besar bagi seorang akademisi.

“Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula amanah untuk memberikan manfaat,” kata Bambang, mengingatkan. Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan orasi ilmiah oleh Guru Besar ke-237 ITS Prof Dr-Ing Doty Dewi Risanti ST MT dengan judul Limbah Alumunium Menjadi Energi Hijau: Masa Depan Hidrogen Indonesia.

Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD saat memberikan sambutannya dalam acara Pengukuhan Profesor ITS di Auditorium Gedung Research Center ITS. (foto/ist)

“Aluminium mampu menyimpan energi dalam bentuk padat pada kondisi lingkungan biasa sehingga lebih aman, mudah ditransportasikan, dan infrastruktur sederhana,” terang Guru Besar Departemen Teknik Fisika ITS tersebut.

Selanjutnya, Prof Ir Ary Mazharuddin Shiddiqi SKom MCompSc PhD dari Departemen Teknik Informatika ITS mempresentasikan orasi ilmiahnya yang berjudul Dari Kecerdasan Statis Menuju Kecerdasan Adaptif: Continual Learning sebagai Fondasi Sistem Cerdas Masa Depan.

Guru Besar ke-238 ITS ini menjelaskan bahwa transformasi kecerdasan pada akal imitasi (AI) terinspirasi oleh model kecerdasan pada manusia yang belajar secara berkelanjutan. “Kami ingin membuat sistem yang secara dinamis dapat mendistribusikan beban kerja berdasarkan ketersediaan dan tren penggunaan,” terang lelaki asal Kediri itu.

Kemudian, Guru Besar ke-239 ITS Prof Dr Sholiq ST MKom MSA menyampaikan orasi ilmiah dengan judul Transformasi Pembiayaan Proyek Perangkat Lunak di Era Microservice dan Sistem Claude-native.

“Keilmuan ini sangat penting di tengah pesatnya transformasi digital yang terjadi pada sektor pemerintahan, industri, pendidikan, maupun layanan publik modern,” papar Guru Besar dari Departemen Sistem Informasi ITS ini.

Penyampaian orasi ilmiah dilanjutkan oleh Guru Besar Departemen Matematika ITS Prof Dr Mahmud Yunus MSi. Guru Besar ke-240 ITS ini mempresentasikan orasi ilmiahnya yang  berjudul Dari Abstraksi Operator ke Transformasi Digital: Kontribusi Analis Fungsional dalam Pengolahan Informasi Modern.

(dari kiri) Prof Dr-Ing Doty Dewi Risanti ST MT dan Prof Ir Ary Mazharuddin Shiddiqi SKom MCompSc PhD yang dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-237 dan ke-238 ITS. (foto/ist)

“Pendekatan ini menjadi kunci dalam melahirkan metode keamanan informasi dan pengolahan citra digital  demi membangun ketahanan dan kemandirian bangsa,” terang lelaki kelahiran Madiun ini.

Terakhir, sesi penyampaian orasi ditutup oleh presentasi ilmiah Guru Besar ke-241 ITS Prof Silvianita ST MSc PhD dari Departemen Teknik Kelautan dengan judul Manajemen Risiko Sebagai Pilar Pengelolaan Infrastruktur Maritim yang Aman dan Berkelanjutan.

“Pendekatan ini menempatkan manajemen risiko tidak hanya sebagai instrumen mitigasi, namun juga sebagai landasan utama pengelolaan sistem maritim yang kompleks dan dinamis,” tutur profesor perempuan pertama dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS ini.

Menutup prosesi pengukuhan, Ketua Dewan Profesor ITS Prof Dr Ir Imam Robandi MT menegaskan pentingnya independensi berpikir bagi seorang profesor. Menurutnya, setiap guru besar wajib memiliki kebebasan akademik yang mutlak dalam mengembangkan dan mengeksplorasi ide sesuai dengan bidang keilmuan yang ditekuninya.

“Seorang profesor itu dituntut untuk merdeka dalam berpikir dan memetakan arah risetnya demi kemajuan bidang keilmuan yang diampunya,” tekan Imam. Meski bergerak di bidang yang berbeda, mulai dari energi terbarukan hingga kemaritiman, pengukuhan ini menjadi momentum penguatan misi kolektif ITS dalam menciptakan kontribusi nyata dan solusi aplikatif bagi kemajuan bangsa di era modern.

Pengukuhan para guru besar baru ini menjadi bukti nyata komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni mewujudkan Pendidikan yang Berkualitas. (bw)