
Surabaya, (pawartajatim.com) – Konsep pengolahan sampah sebagai sumber energi alternatif menjadi tawaran solutif dalam mengontrol permasalahan sampah di Indonesia. Untuk itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mempertegas perannya sebagai mitra aktif strategis dalam konsorsium Taiwan-Indonesia Science Technology Innovation Centre (TI-STIC) yang berlangsung di Auditorium Research Centre ITS, Rabu (20/5).
Untuk mengawal inovasi Waste to Energy dalam konsorsium tersebut, ITS berkolaborasi dengan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Forum ini menjadi pertemuan strategis bagi akademisi, pemerintah, dan industri dalam penanganan limbah sampah di Indonesia.
Wakil Rektor IV bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS Prof Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD mengungkapkan bahwa pembangunan teknologi waste to energy adalah solusi konkret dari permasalahan limbah yang terus meningkat.
Di tengah urbanisasi dan peningkatan populasi, limbah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai beban. “Limbah sesungguhnya memiliki potensi sumber daya yang mendukung transisi sistem energi bersih yang bernilai,” kata Prof Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD, di Surabaya Rabu (20/5).
Kampus Pahlawan ini pun telah memiliki inovasi yang mendukung pengolahan sampah menjadi sumber energi seperti Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Benowo yang telah resmi beroperasi sejak 2021 lalu.
Selain itu, terdapat pula inovasi degradasi plastik dengan biomassa menjadi biofuel karya Prof Dr Hendro Juwono MSi. Inisiasi yang dipayungi oleh TI-STIC ini pun turut membuka peluang integrasi dengan investasi strategis dalam mendukung ekosistem teknologi hijau yang terukur dan aplikatif.

Transisi ini akan mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), emisi gas rumah kaca, serta mendukung ketahanan energi nasional yang sejalan dengan agenda transisi sistem energi lebih bersih.
Lebih dari itu, The Executive Director of Science and Technology Division, Taipei Economic and Culture Office in Australia Dr En-Cheng Yang menekankan kerja sama yang terjalin tidak hanya berbagi tantangan.
Ia menuturkan bahwa melalui forum pertemuan ini, setiap mitra dapat menciptakan solusi bersama dengan menyinergikan potensi kedua negara. Seperti yang disoroti dalam forum ini, pengelolaan limbah dan kebutuhan energi menjadi tantangan yang saling berkaitan erat.
Sebagai negara yang telah lama bergerak maju dalam pengembangan teknologi di Asia, Taiwan telah mengumpulkan berbagai pengalaman dalam mengembangkan sistem pengelolaan limbah dengan teknologi.
“Ke depan, diharapkan akan tercipta pengembangan teknologi, perancangan kebijakan, dan talenta muda yang bersinergi untuk menjawab permasalahan yang masih belum terselesaikan,” ungkap En-Cheng Yang.
Forum ini menjadi langkah konkret ITS bersama perguruan tinggi mitra dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama untuk poin ke-7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau.
Selain itu, turut menunjang pencapaian poin ke-12 terkait Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (bw)










