Intens Belajar Selama Empat Hari di Sumbar dan Riau

Oleh: Dr Aqua Dwipayana (Motivator Nasional)

Bersama pengusaha muda Farizan Hilman Razie, saya selama empat hari, Senin sampai Kamis (30/3-2/4/2026) berada di Sumatera Barat (Sumbar) dan Riau. Mulai dari pagi sampai malam, kami intens belajar kepada mereka yang kami temui.

Kami mengawali dengan niat silaturahim sepenuhnya ibadah, karena Tuhan bukan yang lain. Dengan begitu, ringan melangkah. Menemui banyak orang dengan beragam latar belakang. Mulai dari tokoh olahraga, mahasiswa, dosen, pengusaha, bankir, pejabat, hingga penegak hukum.

Satu persatu kami temui. Saat jumpa mereka, kami fokus belajar. Menyimak semua yang mereka sampaikan. Mengapresiasi dan memberi masukan. Niat sepenuhnya ibadah, membuat kami sama sekali tidak punya beban saat ketemu. Berbicara apa adanya.

Menyampaikannya secara santun dan beretika. Saat berbeda pendapat dengan mereka yang ditemui, kami menyampaikan argumentasinya. Sehingga lawan bicara tidak salah paham, mengerti semua yang kami sampaikan dan bisa menerimanya.

Selama ketemu dengan semua orang, jumlahnya mencapai ratusan orang, kami mendapat banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Memperoleh berbagai informasi baru, aktual, dan menarik. Semuanya bermanfaat buat kami.

Mendiskusikan dan Mengevaluasi

Setiap selesai ketemu dengan seseorang atau banyak orang, kami selalu mendiskusikannya. Sekaligus mengevaluasi hasil pertemuan itu. Semua hal positif yang kami peroleh, bertekad untuk meneladaninya. Berusaha konsisten melakukannya karena kami yakin bermanfaat tidak hanya buat diri sendiri tetapi juga orang lain.

Selama silaturahim tidak semuanya mulus. Ada orang baru yang awalnya curiga saat mau kami temui. Mungkin yang bersangkutan berpikir bahwa kami akan merugikan dirinya termasuk meminta sesuatu kepadanya.

Saya yang sejak puluhan tahun lalu selalu setiap akan silaturahim berniat memberikan sesuatu kepada orang yang ditemui, bukan sebaliknya mengharapkan memperoleh darinya, bersikap tenang menghadapi itu.

Menjadikannya sebagai latihan kesabaran. Saat mau ketemu, butuh waktu untuk bisa menemui orang tersebut. Setelah berjumpa, berkomunikasi dan saya memberikan buku super best seller Trilogi The Power of Silaturahim, sikapnya berubah.

Semula jaga jarak, setelah ketemu dan ngobrol serta saya beri buku-buku karya saya, sikapnya berubah drastis. Jadi baik bahkan sangat baik. Itulah salah satu pelajaran yang kami peroleh selama ketemu banyak orang di Sumbar dan Riau. Latar belakang dan karakternya beragam.

Terbiasa Hadapi Orang yang Sulit

Selama ini saya sangat senang dan terbiasa menghadapi orang-orang yang sulit. Merasa dirinya hebat, penting dan lebih dari yang lain. Sebelum komunikasi dengan orang tersebut, saya lebih dulu berdoa. Memohon kepada Tuhan agar melembutkan hatinya supaya menjadi baik dan rendah hati.

Saya yakin sekali, bagi Tuhan tidak ada yang tak mungkin. Apalagi hanya untuk mengubah seseorang agar jadi rendah hati. Dengan hitungan detik, itu sangat bisa terjadi. Setelah berdoa kepada Tuhan, saat ketemu, saya bersikap mengalah untuk menang.

Menjadikannya sebagai orang penting. Mengikuti alur pembicaraan. Begitu ada kesempatan bicara, saya maksimalkan. Saat menyampaikan pandangan, pelajaran ilmu Komunikasi yang saya peroleh selama belasan tahun di kampus —ketika kuliah S1, S2, dan S3— langsung saya praktikkan.

Ditambah pengalaman selama puluhan tahun ketemu banyak orang dengan latar belakang yang beragam. Saya telah membuktikan pada banyak manusia. Mereka yang semula sombong, tinggi hati, sok dan arogan, sikapnya berubah.

Bahkan mereka yang berjiwa besar ada yang meminta maaf kepada saya. Saya dan Hilman sangat bersyukur karena selama empat hari di Sumbar dan Riau mendapat banyak rezeki. Ketemu ratusan orang dengan latar belakang yang berbeda.

Semuanya memperkaya pengetahuan, wawasan, ilmu dan pengalaman kami tentang beragam karakter manusia. Alhamdulillah… Semua pelajaran dan pengalaman berharga yang kami peroleh, insyaAllah kami terapkan seluruh yang positif. Aamiin ya robbal aalamiin.. (*)