Oleh: Nanang Sutrisno, S.H., M.M (Wakil Ketua Badan Kebudayaan Nasional Jawa Timur Bidang Manuskrip dan Prasasti)
Bulan Mei adalah bulan kelahiran Kota Surabaya. Momen bersejarah ini ditandai dengan peristiwa pengusiran pasukan Mongol dari Cathaynagari yang datang ke tanah Jawa dengan maksud menghukum Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singhasari yang telah menghina dan melukai utusan khusus Kubilai Khan yang bernama Meng Chi.
Namun Raja Kertanegara dan Kerajaan Singhasari telah sirna karena pemberontakan Kerajaan Gelang-gelang dari Dlopo Madiun yang dipimpin oleh Prabu Jayakatwang. Sesuai ilmu sejarah, sumber utama sejahtera terdiri dari prasasti, kitab, kronik (catatan perjalanan), dan legenda atau cerita tutur yang berkembang di masyarakat.
Adalah Prasasti Canggu dan Kitab Negarakertagama yang menyebutkan nama Surabaya melalui toponim/penyebutan Churabhaya. Prasasti Canggu atau Prasasti Trawulan I, yang berangka Tahun Saka 1280 bertepatan dengan Tahun 1358 Masehi ditemukan di Dusun Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan.
berdekatan dengan situs Candi Tikus dan Situs Gapura Bajangratu. Prasasti yang kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta berbahan lempengan tembaga berukuran 36,5 cm x 10,5 cm, bertuliskan aksara Jawa Kuna (Kawi) dan berbahasa Jawa Kuna ini menyebutkan
“……i gsang i bukul i curabhaya muwah prakaraning naditira pradesa sthananing anambangi….” Terjemahan : “di gsang di bukul di Surabhaya, juga segala macam masalah di wilayah pinggir sungai tempat penambangan (penyeberangan sungai).
Toponim “Curabhaya” (baca: syurabhaya), yang tertulis pada prasasti tersebut diidentifikasi sebagai Surabaya. Selain itu juga muncul toponim nama “gsang” yang diidentifikasi dengan Pagesangan dekat Sepanjang, dan toponim “bukul” yang diidentifikasi dengan Bungkul daerah Jalan Darmo yang kini terdapat makam keramat Ki Ageng Bungkul.
Prasasti Canggu menceritakan peristiwa penganugerahan status sima perdikan dari Prabu Hayam Wuruk Raja Majapahit ke 4 yang bergelar Sri Rajasanagara kepada desa-desa yang berada di tepian sungai.
Selain Prasasti Canggu, sumber utama sejarah lainnya yaitu kakawin Negarakertagama.atau Desawarnana tahun 1287 Saka /1365 M, yang ditulis Mpu Prapanca menyebutkan : “Yan ring jangala lot sabha nrpati ring surabhaya manulus mare buwun”
Terjemahan : Jika sampai di Janggala singgah di Surabhaya terus menuju Buwun. Dimana Letak Churabhaya/Surabaya? Hingga lebih dari 700 tahun, banyak yang belum bisa memastikan secara persis dimana letak Churabhaya yang dimaksud.

Hal ini diperparah oleh ketidaksamaan pendapat para ahli sejarah. Ada yang mengatakan bahwa letak Churabhaya ada di sekitar Peneleh. Yaitu, sebuah kawasan antara Jalan Undaan dan Gemblongan, diapit dua sungai.
Namun ada juga yang berpendapat, bahwaChurabhaya berada di tempat lain. Adalah Nanang Sutrisno, Wakil Ketua Bidang Manuskrip dan Prasasti Badan Kebudayaan Nasional Jawa Timur/Jatim yang berpendapat lain.
Mantan anggota DPRD Kota Surabaya ini memiliki pendapat bahwa Churabhaya berada di Daerah Embong Kaliasin. Sebuah kawasan yang terletak di sepanjang sisi barat Sungai Mas.
Mulai dari Jembatan British American Tobaco (BAT) seberang Marvel sekarang hingga berakhir di Jembatan Patuk antara Jalan Genteng Kali – Undaan – Ambengan Kecamatan Genteng, dengan pusat di sekitar Kelurahan Embong Kaliasin
Keyakinan ini didasarkan pada toponim yang tersebar di sekitar Embong Kaliasin. Mulai dari Jembatan Keputran yang dulu terdapat perahu penambangan, Jembatan Kayon hingga pertigaan Genteng Kali- Ambengan- Undaan. Dulu bagian Kali Surabaya ini disebut dengan Kali Asin atau Kaliasin.
“Jalan Kaliasin sekarang berubah menjadi Jalan Urip Sumoharjo dan Basuki Rahmad. Sementara kampung Kaliasin yang berada di belakang Tunjungan Plaza keberadaannya ada hingga sekarang,” kata Nanang Sutrisno.
Nama Kaliasin sesungguhnya memiliki keganjilan, karena biasanya air kali atau sungai rasanya tawar sedangkan air laut rasanya asin. Hal ini mengingatkan pada cerita perkelahian antara Sura/Ikan Hiu, hewan buas penguasa laut dan Buaya penguasa daratan karena ketidakjelasan wilayah.
“Keduanya sama-sama berani dan sama-sama berbahaya” ungkap Arek Pandegiling ini. Toponim Embong Sonokembang, Embong Ploso Embong Sawo, Embong Trengguli, Embong Gayam, Cendana dan lain-lain yang memperkuat adanya keberadaan kawasan taman bunga dan bunga istana yang dikenal sebagai Taman Sari atau Taman Apsari.
“Bisa jadi di Jalan Kedungsari dulu ada perirtaan atau kolam tempat pemandian keluarga istana,’’ tutur penyuka komik silat ini. Keberadaan toponim Pregolan yang berasal dari kata Regol yang artinya pintu gerbang memperjelas keberadaan kawasan istana atau keraton ditempat ini.
Hal ini dipertegas adanya toponim Surabayan yang berada di dekat Pregolan dan Tegalsari. Kampung Surabayan masih bisa dilacak keberadaannya hingga sekarang. ‘’Berawal dari Churabhaya, menjadi Surabaya, kemudian Surabayan,” pungkas Kolektor buku ini.
Dari penelusuran diatas, dapat disimpulkan bahwa kawasan segi empat emas Urip Sumoharjo, Basuki Rachmat, Gubernur Suryo dan Panglima Sudirman sejak dulu merupakan kawasan penting dan pusat pemerintahan. (*)











