Undangan Sharing Menumpuk, 365 Hari Setahun Terasa Kurang

Oleh: Dr Aqua Dwipayana (Monivator Nasional)

Saya melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi telah sekira 30 tahun. Sejak masih jadi pegawai Semen Cibinong. Efektif dan fokus 21 tahun terakhir, setelah berhenti jadi karyawan, beralih menjadi orang bebas merdeka. Atasan satu-satunya hanya Tuhan.

Sampai sekarang saya telah berbicara di depan hampir 3 juta orang pada ribuan sesi. Tempatnya di seluruh Indonesia dan puluhan negara. Saya sangat mensyukuri semua itu. Terjadi sepenuhnya karena Tuhan atas dukungan penuh dari keluarga, saudara-saudara, dan teman-teman.

Selama ini semua kegiatan Sharing Komunikasi dan Motivasi yang saya laksanakan lancar sekali. Tidak hanya itu, saat mempersiapkan kebutuhan untuk sharing, menuju tempat acara, hingga selesai aktivitas, nyaris tanpa hambatan.

Betapa sayangnya Tuhan kepada saya. Memudahkan semua kegiatan Sharing Komunikasi dan Motivasi yang saya lakukan. Rezeki dari Sang Pencipta tidak hanya itu. Saya sekali pun tidak pernah kekurangan aktivitas sharing.

Sebaliknya malah sering dengan terpaksa harus menolak undangan untuk berbagi karena berbagai faktor. Paling sering karena waktunya bersamaan dengan agenda yang telah terjadwal. Begitu banyaknya undangan, jika semuanya mau dipenuhi, dalam setahun sebanyak 365 hari, waktunya kurang. Jika ditotal undangan yang saya terima lebih dari itu.

Nikmat Tiada Tara

Sering dalam sehari, saya sharing lebih dari satu sesi. Bahkan pernah, sehari sebanyak lima sesi, dari pagi sampai sore? Apakah saya cape? Alhamdulillah sama sekali tidak. Malah saya makin bersemangat melakukannya.

Setiap sesi yang rata-rata durasinya sekira 2 jam, saya sering berdiri, sama sekali tidak duduk. Aktif berinteraksi dengan para peserta. Rasanya nikmat sekali, tiada tara. Tidak semua undangan saya penuhi. Saya hanya memenuhi yang kegiatannya hari kerja, Senin sampai Jumat.

Sedangkan Sabtu dan Minggu buat keluarga, kecuali ada pertimbangan khusus. Saya menolak secara halus jika tidak nyaman yang terkait dengan undangan. Misal temanya tidak sesuai dengan kompetensi saya dibidang Komunikasi.

Pengundang sikapnya tidak menghargai. Waktunya tidak pas. Selain itu ada alasan-alasan yang lain. Sebagai pembicara profesional, saya sangat bersyukur bukan hanya karena semua kegiatan Sharing Komunikasi dan Motivasinya lancer.

Tetapi hasilnya bisa langsung dirasakan. Kehadiran saya memberi manfaat kepada yang hadir. Banyak peserta yang berterima kasih karena ada perubahan secara signifikan setelah menyimak semua yang saya sampaikan. Terjadi tidak hanya pada dirinya, tapi keluarga, dan jajarannya di kantor.

Sampaikan Realita Kehidupan

Setiap menyampaikan materi, saya selalu bicara dengan hati dan hati-hati. Seoptimal mungkin tidak menyampaikan teori-teori yang (mungkin) tidak pas buat para peserta. Saya menyampaikan realita kehidupan.

Kondisi yang sedang terjadi dan prediksi ke depan. Dilengkapi dengan contoh-contoh nyata plus pengalaman baik yang saya alami sendiri maupun orang lain. Semua itu sengaja saya sampaikan untuk menyentuh dan membuka hati dan pikiran mereka.

Dengan begitu, mereka merasakan langsung perubahannya. Jika konsisten melaksanakan yang saya sampaikan, hasilnya signifikan. Ada kepuasan batin ketika bisa mengubah menjadi baik dan lebih baik.

Apalagi saat menghadapi mereka yang sudah putus asa, tidak punya semangat, dan melihat seluruhnya gelap. Saat menyimak mereka yang menyampaikan curahan hati (curhat-nya), saya mengedepankan empati.

Ikut merasakan kesedihan dan penderitaan mereka. Memberi kesempatan sepuas-puasnya bicara. Setelah itu minta waktu untuk bicara. Mengapresiasi curhatnya, mengurai masalahnya, dan memberikan solusi terbaik. Disertai contoh-contoh untuk memudahkan pelaksanaannya.

Saya memberikan nomor telepon genggam yang sama dengan WhatsApp (WA). Mempersilakan setiap saat kontak saya apabila ada yang perlu didiskusikan. Disamping itu, kalau ada kesempatan untuk ketemu buat ngobrol, saya siap.

Selalu berusaha menjadi penyimak terbaik dan memberi solusi yang jitu. Kepada mereka yang merasa terbantu, saya katakan bahwa semua itu terjadi sepenuhnya karena Tuhan. Saya hanya menyampaikan pesannya saja.

InsyaAllah saya terus melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi. Berhenti total ketika Tuhan  menghentikan aktivitas saya. Itu dalam kapasitas saya sebagai petugas Tuhan. (*)