Meneladani Prof BJ Habibie, Makin Produktif saat Puasa

Oleh: Dr Aqua Dwipayana (Pakar Komunikasi Nasional)

Pada pertengahan 1991 saat masih menjadi redaktur di Mingguan Surabaya Minggu, saya mendapat rezeki yang luar biasa. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Prof BJ Habibie langsung mengundang saya untuk mengikuti kunjungan kerjanya ke 9 provinsi di wilayah Indonesia Timur. Waktu itu jumlah provinsi masih 27.

Di antara 15 wartawan yang ikut Habibie, saya satu-satunya wartawan dari daerah. Lainnya mewakili media-media arus utama di pusat. ‘Bapak Teknologi’ tersebut mengenal saya saat acara pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang Desember 1990.

Ketika itu bersama ratusan wartawan lainnya saya yang mewakili harian Jawa Pos meliput kegiatan tersebut. Saya beruntung karena di antara ratusan wartawan yang meliput, Habibie memberi perhatian ke saya.

Setiap kami ketemu, pipi saya selalu ditepuk-tepuk pakai tangannya sambil menyapa saya dengan hangat. Sekira seminggu seusai acara penutupan pembentukan ICMI, Habibie kembali datang ke Unibraw. Mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitianya sekaligus mengundang jalan-jalan ke Bandung dan Jakarta.

“Selain seluruh panitia, tolong Pak Achmady mengajak juga Aqua ikut jalan-jalan ke Bandung dan Jakarta,” pesan Habibie ke Rektor Unibraw Prof Zainal Arifin Achmady (saat itu). Kepada saya, Habibie mengatakan sengaja mengundang ke Bandung dan Jakarta untuk melihat hasil kerjanya di Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis di dua kota itu.

“Aqua ikut ya agar tahu karya Pak Habibie,” kata bapak dua anak itu.

Konsisten Puasa

Sekira 2 minggu saya mengikuti kunjungan kerja Habibie ke 9 provinsi di wilayah Indonesia Timur. Waktu itu rombongannya juga para pejabat eselon satu dari berbagai departemen. Agenda Habibie di setiap kota sangat padat. Dari pagi sampai malam bahkan terkadang selesainya menjelang dini hari.

Meski begitu mantan Presiden Republik Indonesia itu tetap semangat. Saya perhatikan setiap hari Senin dan Kamis, Habibie selalu puasa. Itu kebiasaannya sejak kecil termasuk saat ia kuliah di Jerman. Konsisten melaksanakannya.

Hebatnya setiap melaksanakan puasa, Habibie makin bersemangat. Sama sekali tidak terlihat sedikit pun lelah. Ketika berpidato terutama bicara tentang teknologi selalu berapi-api. Selama 2 minggu bersama Habibie, saya melihat banyak keteladanan beliau.

Totalitas pada pekerjaannya dan sangat menguasai ilmunya. Kepada orang lain sangat menghargai, meskipun ilmu dan pengalamannya jauh dibawahnya. Sungguh keteladan seorang pemimpin yang harus dicontoh.

Di salah satu provinsi dalam suasana santai, saya bertanya kepada Habibie kenapa makin semangat setiap puasa dan apa rahasianya. Pertanyaan itu saya simpan dalam hati selama berhari-hari. Sambil tertawa beliau berucap, “Aqua, Pak Habibie paling senang setiap hari Senin dan Kamis karena bisa puasa. Lebih produktif dan waktunya optimal. Tidak perlu istirahat makan siang.”

MasyaALLAH… Saya kaget campur kagum menyimak pernyataannya. Sekaligus bertekad untuk meneladaninya.

Langsung ‘Injak Gas’

Mulai itu, saya yang sejak SD juga telah puasa Senin dan Kamis, bertekad untuk meneladani Habibie. Yakin bisa melakukannya karena niatnya baik. Esensinya setiap puasa termasuk di bulan Ramadan, harus makin semangat dan produktif.  Melakukan berbagai aktivitas melebihi saat tidak puasa.

Saya telah membuktikannya. Alhamdulillah sukses. Puasa sama sekali tidak mengurangi semangat untuk beraktivitas. Sebaliknya membuat makin produktif. Hal seperti itu saya rasakan tidak hanya saat puasa Senin dan Kamis, tapi juga selama Ramadan ini dan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada kata lemas, lelah, dan kurang semangat.

Pada Ramadan ini saya langsung “injak gas”. Selama lima hari di Sumatera Utara. Dalam minggu ini, mulai Selasa dini hari besok, insyaALLAH lima hari juga beraktivitas di Sulawesi (Makassar dan Kendari serta tentatif di Manado).

Saya telah ada beberapa agenda Sharing Komunikasi dan Motivasi serta silaturahim. Tinggal melaksanakannya saja. Belajar dari almarhum Prof Habibie, puasa membuat makin semangat dan produktif. Alhamdulillah dan aamiin ya robbal aalamiin. (*)