Sidoarjo, (pawartajatim.com) – Masalah relawan bencana dikupas oleh Eko Teguh Paripurno atau lebih akrab disebut Kang ET. Guru besar Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta yang juga pakar kebencanaan ini mengupas beberapa masalah yang terjadi saat bencana alam di tiga provinsi di Sumatra.
“Semestinya, semua nomor HP relawan masuk dalam Command Center BPBD setempat. Namun dalam kasus bencana di Sumatra, tidak ada yang connect dengan relawan yang ada,” ungkap pria yang juga menjabat direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana UPN Yogyakarta ini.
Ke depan, ia melihat perlunya integrasi data relawan yang terlibat dalam kebencanaan. Sehingga koordinasi bisa lebih mudah. Hal ini ia ungkapkan dalam acara Sosialisasi Penanggulangan Bencana bersama Relawan Jatim yang diadakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Minggu (22/1) malam.
Sekitar seratus relawan dari berbagai daerah di Jatim hadir dalam kegiatan yang juga diiringi buka puasa bersama ini. Mereka juga melakukan tanya jawab soal kerelawanan dan update masalah saat bencana di Sumatra, beberapa waktu lalu.
Ia melihat sejauh ini dalam kondisi situasi darurat, pasti ramai para relawan yang terjun ke lokasi bencana.Namun, lanjut Kang ET, yang ramai ini adalah yang daftar terjun ke lokasi, tapi tidak pada kesiapan darurat pada titik-titik rentan.
“Oleh karena itu, perlu dipetakan kemampuan resque setiap relawan yang ada di situ,” jelasnya. Peraih penghargaan UN Sasakawa Award for Disaster Reduction juga mengungkapkan bahwa edukasi masyarakat sangat penting lewat pelaku – pelaku yang ada di desa, termasuk relawan setempat.
Ia menyoroti masalah sederhana yang kadang terlupakan.Misalnya, pengecekan handy talky (HT) saat terjadi bencana. “Kadang HT tak bisa digunakan saat keadaan darurat. Padahal di saat yang sama jaringan seluler di suatu daerah lagi putus atau terkendala,” katanya.
Sementara, Ketua Komisi C DPRD Jatim, Adam Rusydi yang juga hadir dalam kegiatan ini mengungkapkan, penguatan kapasitas relawan jadi penting manakala menghadapi bencana.
“Para relawan itu kinerjanya luar biasa. Dibayar gak sepiro, risiko ne nyoto,” tukasnya. Adam Rusydi juga akan membantu para relawan yang menghadapi kendala di lapangan, atau terjadi permasalahan tertentu. Terutama yang berada di daerah pemilihannya (Dapil).
Sedangkan, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto berterima kasih atas kerja samanya dengan para relawan selama ini. Ia juga memberikan ruang dan fasilitas untuk memanfaatkan lokasi di BPBD Jatim sebagai lokasi pelatihan.
Selain itu, ia mengungkapkan ada rencana Pemerintah Jepang melakukan penelitian terhadap kesehatan para relawan di Jatim. Kegiatan ini akan dilaksanakan pasca Lebaran mendatang. (rizki)











