Ingin Lihat Gamelan, Puluhan Mahasiswa Asing dari Enam Negara Kunjungi Sekolah NSA Surabaya

Siswa-siswi di Sekolah NSA Surabaya sedang unjuk kebolehan main gamelan dihadapan puluhan mahasiswa asing dari enam negara. (foto/bw)

Surabaya, (pawartajatim.com) – Sekolah Nation Star Academy/NSA Surabaya jadi pilot projeck kunjungan puluhan mahasiswa asing dari 21 universitas terkemuka di luar negeri dan dua professor dari enam negara. Yang menarik, kunjungan yang setiap tahun dilakukan itu ada kehadiran mahasiswa asal Rusia dalam rombongan tersebut.

Kunjungan ini dalam rangka pengenalan seni & budaya tradisional Indonesia. Acara kunjungan yang dimotori ITS melalui Divisi Global Partnership ini merupakan acara rutin yang diadakan bekerja sama dengan NSA yang berlokasi di Jalan Darmahusada Indah Barat VI/1, Surabaya.

”Setiap kunjungan pasti kita angkat budaya dan tradisional yang ada di Indonesia. Tahun ini kami angkat batik Kawung yang merupakan ciri khas yang dipakai raja-raja di Yogyakarta. Intinya, harus ada yang baru yang diperkenalkan kepada mahasiswa asing tersebut,’’ kata Principal of NSA Junior High School, Inggriette Liany Widyasari, S.T., disela kunjungan puluhan mahasiswa asing di Sekolah NSA Surabaya Kamis (29/1/2026).

Principal of NSA Junior High School, Inggriette Liany Widyasari, S.T (pakai kacamata) didampingi Puji (kiri). (foto/bw)

Batik Kawung, kata Inggriette, bercerita tentang melukis papan telenan dengan motif batik kawung sebagai media pembelajaran budaya nusantara dalam penyambutan puluhan mahasiswa dan dosen asing dari berbagai enam negara ini.

Menurut dia, setiap guratan warna batik kawung menjadi dialog lintas bangsa, tentang keseharian masyarakat Indonesia. Tentang nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan filosofi hidup yang melekat dalam guratan motif batik kawung. Kegiatan ini ingin memperkenalkan budaya Nusantara bukan sebagai sesuatu yang jauh dan eksklusif, tetapi dekat, hangat, dan bisa disentuh.

Batik kawung merupakan salah satu jenis motif batik dari sekian banyak motif batik yang ada di Indonesia. Motif batik klasik ini mempunyai sejarah, khususnya di wilayah Jawa. Ciri khas motif kawung adalah berbentuk bulatan simetris dan berbentuk buah kolang-kaling.

Sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno sudah melekat dan erat kaitannya dengan lingkungan keraton. Yogyakarta dan Solo merupakan asal motif batik Kawung, dua pusat budaya Jawa yang sangat kental dengan tradisi batik.

Di masa lampau, batik kawung digunakan oleh para bangsawan sebagai lambang kehormatan dan kebijaksanaan. Di lingkungan Keraton Yogyakarta motif ini digunakan untuk upacara.

Buah aren dan kolang kaling sendiri merupakan sumber dari penamaan Kawung. Buah ini memiliki bentuk lonjong dan tersusun rapi menjadikan inspirasi utama dari bentuk bulatan simetris pada motif kawung.

Motif bulatan simetris seperti kolang-kaling merepresentasikan empat arah mata angin sehingga menjadi simbol keteraturan dan keseimbangan hidup. Selain itu, motif ini juga sering diartikan sebagai lambang kesucian, ketulusan, dan kontrol diri.

‘’Tak heran kalau motif kawung sering dikenakan oleh pemimpin sebagai simbol kebijaksanaan,’’ papar Inggriette. Penyambutan para tamu internasional ini semakin bermakna dengan hadirnya Tari Jejer Jaran Dawuk, tarian khas Banyuwangi yang berasal dari kesenian Gandrung.

Siswi Sekolah NSA sedang menampilkan senam tradisional di hadapan mahasiswa asing dari enam negara yang berkunjung di sekolahnya. (foto/bw)

‘’Tarian ini melambangkan rasa syukur atas panen melimpah dan berfungsi sebagai tari penyambutan tamu. Gerakannya yang tegas namun anggun mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi, ramah, kuat, dan berakar pada tradisi,’’ ujarnya.

Para mahasiswa dan dosen asing tampak terhanyut. Menyadari bahwa budaya Indonesia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman yang dirasakan. Kegiatan ini sebagai rasa peduli Sekolah NSA terhadap budaya nusantara yang harus dilestarikan dan dikenalkan di kancah internasional.

Penampilan siswa-siswi Sekolah SMP NSA yang mencerminkan multikultural sekolah. Alunan Guzheng yang lembut dan juga penampilan Wushu yang elegan dan dinamis. Bukan hanya itu saja, warisan budaya nusantara lainnya yang diperkenalkan dan dipelajari oleh tamu yang hadir adalah gamelan, angklung dan kulintang.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Sekolah NSA menegaskan komitmennya sebagai ruang belajar lintas budaya dan terus menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, menyentuh, dan bermakna bagi siswa maupun mitra internasional. (bw)