Surabaya, (pawartajatim.com) – Chef berpengalaman di lautan dan daratan. Chef Dale Darryl Laoh adalah Executive Chef di Hotel Ciputra World. Dia lahir di Balikpapan pada1976 dari keluarga keturunan Belanda dan Tondano Sulawesi Utara.
Sebagai keturunan Belanda, Dale kecil dibesarkan dalam tradisi Eropa yang sangat ketat. Termasuk budaya makan bersama keluarga. Walaupun lahir dan besar di Balikpapan, setiap hari Dale mengkonsumsi makanan Belanda dan masakan khas Manado.
Seperti sop brenebon, bistik, rica-rica, roa, cakalang, tinutuan, dan lain-lain. Dale juga tidak pernah dan tidak boleh makan diluar rumah. Sehingga dia tidak pernah tahu seperti apa rasa masakan di luar rumah.
“Menurut saya, masakan ibu yang paling enak. Sehingga saya sering membantu ibu memasak di rumah,” kata Executive Chef Hotel Ciputra World Surabaya, Dale Darryl Laoh, kepada pawartajatim.com, Kamis (12/9/2024).
Setelah lulus SMA di Malang, Dale melanjutkan kuliah di D3 Perhotelan di daerah Karang Setra Bandung. Sambil kuliah Dale bekerja sebagai daily worker atau pekerja harian di Hyatt Regency Bandung.
Kemudian Dale bertemu dengan salah satu keluarganya yaitu pamannya yang bekerja di Kapal Holland American Line. Pertemuan inilah yang kelak merubah jalan hidup Dale. Karena akhirnya Dale menuruti saran pamannya tersebut untuk bekerja di kapal.
Kemudian, Dale melamar dan diterima bekerja di kapal Costa Rivera Italia yang melayani route di Mediterania. Yaitu Italia, Yunani, Malta, Turki, Spanyol, Mesir dan kembali ke Pelabuhan Genoa, Savona, Italia.
Setelah training di Filipina, dijadwalkan naik kapal dan memegang jabatan menjadi Cook 2. Namun karena tidak sabar, Dale memaksa diri untuk segera naik kapal. “Akhirnya saya hanya menjadi seorang steward. Seharusnya job saya menjadi cook. Dan saya sempat tertawa sendiri, karena harus memakai pakaian kerja katel pack dan sepatu boot,” jelas pria tampan berwajah Eropa ini.
Setelah bekerja di kapal, Chef Dale pulang kembali ke tanah air, kemudian ke Jakarta, be kerja sebagai casual dapur di Hotel Shangrila Jakarta selama setahun. Disana Chef Dale pergi bekerja saat subuh dan pulang tengah malam.
Perjalanan karir Chef Dale di hotel terbilang sangat Panjang. Terus berlanjut di Dusit Balikpapan, tambang batubara melayani katering untuk memenuhi kebutuhan makan karyawan. Sempat pindah kerja di sebuah restoran Dubai, Uni Emirat Arab, Balikpapan, terus restoran, maupun villa di Bali.

Setelah menikah dengan seorang guru di Balikpapan, Chef Dale bekerja di Goa India selama satu tahun. “Saat di India, saya pernah melayani jamuan makan artis Sarukhan, Priyanka Chopra, Rihtick Rosan, dan Keluarga Politisi Gandhi,” ungkap chef yang menguasai bahasa Indonesia, Inggris, Italia dan Spanyol.
Setelah selesai kontrak, Chef Dale balik ke Indonesia, bekerja di Bali yaitu hotel daerah Pecatu selama setahun, pindah ke Aston Legian, group Archipelago, pada saat opening, terus 100 Sunset, dan transfer ke Neo Legian.
Karirnya terus bergerak dan masuk ke Kota Surabaya, dimulai di Domisili Resto Jl Sumatera selama 6 tahun, terus pindah ke Hotel Shangri-La. Lanjut balik lagi ke Bali, yaitu di Vinns Beach Club.
“Saat corona saya sempat nganggur selama 2 tahun. Kemudian diterima di Ciputra World sebagai Executive Cheff,’ ujar penyelam pernah menyelam di Bunaken, Labuhan Bajo, Bali, Lombok, dan Situbondo ini.
Sebagai chef profesional yang malang melintang di berbagai belahan dunia ini, Chef Dale tetap berkeyakinan bahwa masakan yang susah dibuat adalah masakan Indonesia, selain karena banyaknya rempah-rempah yang digunakan, karena setiap orang Indonesia punya keyakinan dan idealisme masing-masing sesuai daerahnya.
“Contoh masakan sambal matah, ada yang memakai jeruk ada yang tidak. Sementara di belahan daerah yang lain. Seperti Sumatera Utara, dominan menggunakan jeruk andaliman, tetapi di Jawa tidak digunakan sama sekali,” ujar chef yang tidak menyukai masakan pedas ini.
Chef Dale juga meyakini bahwa tangan setiap orang berbeda, sehingga masakan yang dihasilkan rasanya juga bisa menjadi berbeda, Karena itu sebagai seorang Executive Chef dia juga berperan sebagai quality control, untuk memastikan taste dan presentasi tetap sama.
Sebagai manusia biasa, Chef Dale juga sering dihinggapi mood atau perasaan tidak baik, jika hal tersebut terjadi, maka Chef Dale memilih berhenti sejenak untuk istirahat sampai kembali pulih. Hal yang menyenangkan bagi Chef Dale, adalah saat chef bawahan yang dibimbingnya berhasil menang dalam kompetisi regional yang diadakan oleh group hotelnya.
Sedangkan hal yang menyedihkan adalah saat bekerja di India, saat itu hotel tempatnya bekerja mau tutup, para manager semuanya resign, pengelolanya tinggal Chef Dale seorang diri. Kemudian Chef Dale ditagih para supplier pemasok barang, bahkan sempat dimarahi dalam bahasa India, bahasa yang tidak sepenuhnya dia mengerti.Persis adegan dalam film Bollywood.
Kini Chef Dale mencurahkan perhatian sepenuhnya pada kemajuan Hotel Ciputra World, tempat dia bekerja.Mulai merancang dan menentukan menu saat event, melakukan review, dan target pasar, hingga brand storming dan melakukan meeting dengan departemen terkait hingga mem followupnya.
Karya terbaik yang dibuat oleh Chef Dale untuk Hotel Ciputra World adalah seafood green pasta, seafood creamy pasta dan cumi black ink pasta. Menu ini mendampingi afternoon tea dan menu Indonesia lainnya yang menjadi andalan di hotel tersebut.
Cita-cita dan impian terbesar Chef Dale adalah mempunyai warung yang menyatu dengan dive center. Dan warung tersebut disajikan menu seafood hasil tangkapan dari nelayan setempat. (nanang)











