Cari Solusi Anggaran Daerah Kena Kepras, DPRD Gresik dan PWI Gelar Dialog

Ketua DPRD Kabupaten Gresik M Syahrul Munir (tengah) saat menyampaikan pandangannya dalam Dialog Publik terkait pengurangan anggaran dana Transfer ke Daerah/TKD. (foto/dra)

Gresik, (pawartajatim.com) – Saat terjadi pengurangan atau pengeprasan dana anggaran ke daerah, organisasi dan lembaga ini turut mencari solusi.  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Gresik terus menunjukkan kontribusi dalam pembangunan daerah. Bersama DPRD Gresik, PWI menggelar Dialog Publik bertajuk “Smart Budgeting dan Smart Revenue: Arah Baru Peningkatan PAD untuk Kemandirian Daerah” di Hotel Horison GKB, Gresik, Kamis (22/1).

Dialog publik ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional/HPN tahun 2026 sekaligus Hari Ulang Tahun/HUT ke-80 PWI. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber strategis, yaitu Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim, Wakil Bupati/Wabup Gresik Asluchul Alif, serta Ketua DPRD Gresik M Syahrul Munir.

Turut hadir Wakil Ketua DPRD Gresik Lutfi Dhawan, Mujid Riduan dan Ahmad Nurhamim. Selain itu, hadir pula jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) penghasil di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik, perwakilan perusahaan, perguruan tinggi serta para kepala desa dari berbagai wilayah di Kota Pudak.

Ketua PWI Gresik, Deni Ali Setiono, memaparkan melalui dialog publik ini, PWI bersama DPRD menegaskan komitmen untuk terus mendorong tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, serta berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Ia menegaskan, pembangunan daerah tidak hanya soal besarnya anggaran. “Akan tetapi bagaimana memastikan setiap satu rupiah anggaran yang dialokasikan itu tepat sasaran,” kata Deni. Selain pengelolaan anggaran, pemerintah daerah juga dituntut lebih inovatif dan adaptif dalam pendapatan daerah.

Kolaborasi dan digitalisasi menjadi langkah penting untuk menghadirkan sumber pendapatan yang berkelanjutan. “Dialog publik ini adalah sumbangsih kecil dari PWI Gresik.

Para peserta Dialog Publik Peningkatan PAD untuk Kemandirian Daerah foto bersama dengan Nara Sumber. (foto/dra)

Pers tdak hanya menulis berita tapi juga memberikan solusi dari permasalahan masyarakat dan daerah. Harapannya bisa bermanfaat dalam perumusan kebijakan untuk kesejahteraan,” harapnya.

Sementara itu, Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim, menekankan pentingnya peran pers dalam mengawal kebijakan publik, khususnya dalam pengelolaan anggaran dan optimalisasi pendapatan daerah. Menurutnya, dialog ini menjadi wujud kolaborasi yang apik PWI dengan stakeholders.

“Harapannya dari dialog ini lahir tawaran kebijakan untuk mendongkrak PAD. Karena Gresik sangat potensial sekali, tapi dari sisi fiskal jauh dari yang dimiliki. Potensi itu harus bisa dikapitalisasi sehingga tingkat kemandirian daerah Gresik lebih baik,” tandas Cak Item panggilan akrab Ketua PWI Jatim ini.

Ia menyinggung hampir seribu perusahaan berskala besar ada di Gresik, harusnya PAD bisa lebih dari Rp 1,1 triliun. Gresik tidak boleh hanya menjadi penonton, tapi harus menjadi tuan rumah yang mendapat keuntungan besar bagi kesejahteraan warganya.

“Lebih dari 50 persen dari PDRB Gresik disumbang oleh industri olahan. Sementara PAD hanya bertumpu pada pajak daerah, retribusi, BPHTB saja. Jangan bergantung pada sektor tersebut. Pemerintah daerah bisa menciptakan peluang baru melalui penguatan BUMD, sektor perizinan, dan lainnya,” tegas pria lulusan Unej ini.

Wabup Gresik mengatakan, pihaknya terus mendorong penguatan PAD melalui inovasi kebijakan dan optimalisasi potensi lokal. Ia menilai pendekatan smart revenue menjadi strategi penting untuk mewujudkan kemandirian fiskal daerah yang berkelanjutan.

Asluchul Alif berterima kasih atas masukan dan saran untuk peningkatan PAD. Ke depan pihaknya tengah menggenjot sektor pendapatan dari perizinan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

“Di Gresik sangat banyak perusahaan, terutama di kawasan-kawasan industri. PBG menjadi sumber pendapatan yang besar nanti yang akan kita maksimalkan,” tukasnya. Wabup mengakui bahwa selama ini Pemkab Gresik masih mengandalkan pajak daerah dalam PAD tahunan.

Bahkan tahun 2025, 95,24 persen dari PAD disumbang pajak daerah yang didominasi PBB, BPHTB dan PBJT listrik. Dalam paparannya, Alif juga mengungkap hasil kajian potensi pajak daerah yang selanjutnya dirumuskan menjadi strategi peningkatan PAD. Antara lain dengan memperluas basis penerimaan.

“Mengidentifikasi pembayaran pajak baru/potensial, memperbaiki basis data pajak, dan memperbaiki penilaian,” jelas pria yang berlatar belakang dokter ini.

Lalu memperkuat proses pemungutan, melalui percepatan penyusunan Peraturan Daerah (Perda), mengubah tarif, dan peningkatan SDM serta peralatan penunjang. Kemudian penguatan kelembagaan, peningkatan pengawasan dan efisiensi administrasinya.

Sementara itu, Ketua DPRD Gresik M Syahrul Munir menegaskan dukungan legislatif terhadap kebijakan anggaran yang efisien, tepat sasaran, dan berorientasi pada hasil. Pihaknya menyoroti pengurangan atau pengeprasan anggaran dana Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp 539 Miliar.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada keuangan daerah. Khususnya alokasi pembangunan infrastruktur yang harus dikepras. Oleh karena itu, pihaknya mendorong sektor PAD agar lebih maksimal guna menutupi pengurangan TKD tersebut.

“PAD sangat menjadi concern kami, ini berkaitan dengan pengurangan TKD. Pembangunan daerah pada infrastruktur berkurang. Meskipun begitu, kami dari legislatif meminta agar pemda tidak mengurangi kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya.

Untuk mendongkrak PAD, pihaknya mengajak seluruh stakeholder untuk menjaga iklim investasi yang baik. “Kalau banyak investasi yang masuk, ekonomi bergerak, tenaga kerja terserap dan sektor pendapatan daerah meningkat. Dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPRD Gresik Mujid Riduan dan Ahmad Nurhamim. Dalam forum tersebut, muncul juga masukan dari kalangan perusahaan dan perguruan tinggi. Antara lain mendorong hadirnya badan riset industri agar Gresik ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dunia industri.

Kemudian penguatan SDM melalui vokasi serta penguatan BUMD sebagai sumber pendapatan. (dra)