BI Jatim Nilai Ekonomi Jawa Timur Kuat

Horas V. M. Tarihoran (tengah), Ibrahim (no 2 dari kanan), Max Darmawan (no 2 dari kiri), Bambang S. Hidayat (kanan) dan Saiful Islam (kiri). (foto/ist)

Surabaya, (pawartajatim.com) – Bank Indonesia/BI Provinsi Jawa Timur/Jatim, menilai perekonomian di provinsi kuat. Paling tidak, penilaian itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Jatim, Ibrahim, ketika berbicara dalam Media Briefing Triwulan II Tahun 2026 bertema ‘Sinergi Memperkuat Stabilitas untuk Mendukung Ketahanan Ekonomi Jawa Timur dalam Mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri’ yang digelar di kantor OJK Jatim Senin (22/6).

Ibrahim, menyampaikan, perekonomian Jatim tetap  menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

Diinformasikan bahwa Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terakhir pada 17-18 Juni 2026 memutuskan menaikkan Bl-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75 persen, dan Lending Facility menjadi 6,50 persen.

Kenaikan ini  sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai  langkah  pre-emptive untuk  menjaga  target  inflasi   tetap  berada  dalam kisaran sasaran 2, 5± 1 persen.

Sementara    itu, kebijakan makroprudensial, kebijakan sistem pembayaran, pendalaman    pasar   uang   dan kebijakan ekonomi keuangan inklusif dan hijau, tetap diarahkan untuk turut mendorong  pertumbuhan (” pro-growth”).

Sejalan dengan  ketahanan   ekonomi nasional, kinerja   perekonomian Jatim pada Triwulan I/2026 juga tercatat   tumbuh  sebesar 5,96 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang  tumbuh  5,85 persen (yoy).

Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK, Horas V. M. Tarihoran (tengah), Kepala Perwakilan BI Jatim (kanan) di Surabaya Senin (22/6). (foto/ist)

Pertumbuhan tersebut didorong oleh  akselerasi konsumsi   rumah  tangga,  investasi,  dan konsumsi  pemerintah, terutama   pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional, serta didukung oleh peningkatan kinerja sektor perdagangan, pertanian, konstruksi, dan  akomodasi makan   minum.

Di sisi   stabilitas harga, inflasi Jatim pada Mei 2026 tercatat  sebesar 3,49 persen (yoy) dan masih  berada dalam rentang sasaran   nasional 2,5±  1 persen. Terkendalinya  inflasi   ini  didukung terjaganya pasokan pangan di berbagai wilayah dan adanya koordinasi  erat Tim Pengendalian lnflasi Daerah (TPID).

Ke depan,  perekonomian Jatim  diprakirakan tetap  tumbuh  kuat pada   kisaran    4,9 persen-5,7 persen (yoy) sepanjang tahun 2026, didukung oleh kuatnya konsumsi rumah tangga,   meningkatnya investasi, berlanjutnya proyek-proyek strategis, serta terjaganya aktivitas  perdagangan dan ekspor.

‘’lnflasi juga diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran nasional. Sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, OJK, LPS, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah, serta seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing,” ujar Ibrahim. (bw)