Anusapati, Kisah Anak yang Tak Dianggap

Surabaya, (pawartajatim.com) – Dendam kesumat menerpa Wangsa Rajasa. Konon prahara yang menimpa keluarga Kerajaan Singasari ini berasal dari ambisi, dendam, dan tidak terpenuhinya rasa keadilan.

Keadilan memang soal rasa, dan itu ada pada perasaan setiap orang. Baik rakyat jelata maupun kalangan pejabat tinggi dan kaum bangsawan. Candi Kidal adalah bukti yang meriwayatkan dan riwayat yang membuktikan perjalanan panjang rasa ketidakadilan yang dialami oleh Raja Panji Anusapati dari Kerajaan Singasari.

Nama Kidal sendiri memiliki arti tidak dianggap, tidak sewajarnya, dan dikesampingkan. Di candi yang terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini Anusapati didharmakan. Anak dari Pasangan Tunggul Ametung dan Ken Dedes ini merasa tidak diperlakukan sewajarnya oleh ayah tirinya, Ken Angrok.

Ia disepelekan, diremehkan, dan keberadaannya dianggap tidak pernah ada. Ken Dedes, dikawini oleh Ken Angrok, saat usia kandungannya memasuki usia 7 bulan, barang tentu Ken Angrok juga ikut menumbuhsuburkan kandungan tersebut. S

ifat, watak, dan perangai Ken Angrok juga tercampur dalam benih sang jabang bayi. Nanang Sutrisno, adalah pengurus Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Provinsi Jawa Timur yang menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Manuskrip, di tengah kesibukan pekerjaannya sebagai Koordinator Bidang Humas dan Hukum di sebuah televisi swasta ternama di Surabaya, dia telah lama melakukan penelitian terhadap sosok keluarga Wangsa Rajasa terutama dari perspektif dan sudut pandang yang berbeda.

Laki-laki Arek Suroboyo ini berhasil menyusun narasi tentang sosok Anusapati, yang keberadaannya masih gelap karena minimnya informasi, baik yang bersumber dari Kitab Pararaton maupun Negarakertagama.

“Benih Tunggul Ametung bercampur dengan benih Ken Angrok, sifat-sifat keduanya ada pada diri Anusapati, termasuk sifat buruk seperti penjudi, pendendam dan masih banyak lagi,” kata Nanang Sutrisno, kepada pawartajatim.com, Kamis (9/5/2024).

Masa kecil Anusapati diasuh langsung oleh Ken Dedes, karena Anusapati tidak memiliki saudara kandung, maka perhatian Ken Dedes kepada putranya tersebut menjadi berlebihan. Sehingga Anusapati tumbuh sebagai seorang yang tidak memiliki keberanian yang cukup untuk berbuat sesuatu, manja, dan cenderung cengeng, serta kekanak-kanakan.

Ken Angrok juga tidak menyukai perilaku anak tirinya tersebut, di mata pendiri Kerajaan Singasari itu, Anusapati adalah sosok yang sifat sifatnya jauh dari putra mahkota yang diharapkan. Apalagi Anusapati mempunyai kegemaran berjudi dan mabuk-mabukan, sifat yang tidak pantas menjadi calon raja.

“Akhirnya sejarah membuktikan, Anusapati hidupnya berakhir di tempat judi sabung ayam,” jelas Nanang Sutrisno, yang juga kolektor buku, batu cincin, dan keris ini. Seperti layaknya anak kecil yang menangis di pangkuan ibunya, Anusapati mengadukan perihal sikap ayahnya terkait dirinya yang tidak diangkat sebagai putra mahkota.

Justru Adiknya Mahisa Wungatelang yang lebih dipilih. Ken Dedes yang memang lebih menyayangi putranya tersebut, akhirnya terbawa perasaan untuk berterus terang perihal yang sebenarnya tentang penyebab kematian Tunggul Ametung, ayahnya.

Dan akhirnya Keris Gandring pun yang puluhan tahun disimpan diserahkan begitu saja kepada Anusapati. Dada Anusapati berdegup kencang, badannya gemetar, seakan-akan tidak mampu menahan amarah yang berkecamuk.

Dalam benaknya hanya ada perasaan dendam yang memuncak, ia ingin segera menghabisi nyawa Ken Angrok yang telah membunuh Tunggul Ametung, ayahnya. Tetapi Anusapati adalah sosok yang penakut, walaupun ada Keris Gandring yang tersohor sakti berada dalam genggamannya.

Namun, dia tidak juga memiliki yang cukup untuk berhadapan satu lawan satu melawan Ken Angrok. Pararaton mengkisahkan bahwa akhirnya Anusapati meminjam tangan seorang Pangalasan dari Batil untuk membunuh dan menghabisi riwayat Ken Angrok yang bergelar Sri Rangga Rajasa Amurwabhumi menjelang senja hari di balai adrawina/ ruang makan istana Singasari.

Anusapati tidak memberikan apresiasi atau penghargaan yang tinggi kepada Pengalasan yang telah berhasil menunaikan tugasnya itu, malah membunuhnya dengan Keris Gandring juga. Entah apa yang ada dalam pikiran Anusapati saat itu.

Tidak hanya itu, perasaan Anusapati saat menjadi raja juga tidak pernah tenang, dia merasa jiwanya selalu terancam menjadi korban pembalasan dendam yang akan dilakukan oleh anak-anak Ken Angrok yang lainnya. Karena itu istananya dibangun benteng pertahanan yang kuat dan dilapisi oleh parit perlindungan.

Benar kata pepatah, ‘Hati-hati dengan pikiranmu, karena itu akan menjadi lisanmu, hati-hati dengan lisanmu, itu akan menjadi tindakanmu, hati-hati dengan tindakanmu, karena itu akan menjadi kebiasaanmu, hati-hati dengan kebiasaanmu, itu akan menjadi takdirmu’.

Demikian juga dengan Anusapati, takdir putra Tunggul Ametung ini adalah harus mengakhiri hidupnya di kalangan judi sabung ayam. Ia dihabisi oleh Panji Tohjaya, saudara tirinya, yang merupakan putra Ken Angrok dan Ken Umang.

Panji Tohjaya memanfaatkan kelengahan Anusapati, dimana saat duduk berjongkok sambil mengelus ayam aduannya, Keris Gandring yang terselip di pinggangnya terasa mengganggu, terus dititipkannya keris itu kepada Panji Tohjaya.

Mendapatkan kesempatan emas, maka segera dihujamkan keris tersebut ke tubuh Anusapati, dan Anusapati tumbang, tewas ditempat. Pasukan pengawal Anusapati tidak bisa berbuat banyak, karena mereka telah dikepung pasukan Sinelir yang merupakan pendukung setia Panji Tohjaya.

“Rupanya Anusapati lupa terhadap nasihat Ken Dedes yang berbunyi Eling-eling datan lali, sopo sing eling bakal diayomi, sopo sing lali margoning pati,” tambah Nanang yang juga seorang praktisi hukum ini.

Sejarah mencatat bahwa Anusapati meninggal dunia pada 1248 Masehi, dan didharmakan di Candi Kidal dengan perwujudan sebagai Syiwa Mahadewa. Di Candi Kidal terdapat relief Garudeya yang menyelamatkan ibunya, hal ini menggambarkan betapa dekat hubungan Anusapati dengan Ken Dedes ibunya.

Kematian Anusapati tidak menghentikan peristiwa berdarah di kalangan Wangsa Rajasa, karena masih ada pembunuhan dan pemberontakan yang terjadi demi memperbutkan tahta Kerajaan Singasari yang diwariskan oleh Ken Angrok. (nanang)