Surabaya, (pawartajatim.com) – Ada yang menarik dalam seminar Usaha Mikro Kecil Menengah/UMKM Naik Level yang digelar di Resto Mahameru Surabaya. Kelima mitos itu adalah, harus punya uang banyak, pinjaman modal susah dipadat, harga produk makin mahal (sebagai Solusi untung), mempunyai omzet besar (sudah pasti aman) dan harus pakai peralatan mahal.
Penegasan itu dikemukakan Head of Publik Comunication Polytron, Vina Julita Wijaya, ketika berbicara dalam seminar dengan thema UMKM Naik Level Bareng Polytron Surabaya: Membangun Brand UMKM dari Cerita Hingga Kemasan yang Menjual’ di Resto Mahameru Surabaya Kamis (9/4).
‘’Kelima mitos itulah yang selalu muncul saat mengawali usaha,’’ kata Vina Julita Wijaya. Ia menyebut, kelima mitos itu harus dilawan dengan temuan realita lapangan. Vina menyatakan, mitos harus banyak uang saat memulai suatu usaha.
Realita (Sistem & SOP): Terburu-buru ekspansi tanpa sistem justru membahayakan bisnis. Data menunjukkan 25 persen pelaku usaha kesulitan karena Sistem & SOP belum tertata. Sebanyak 48 persen pelaku UMKM masih mencatat transaksi secara manual, yang berakibat pada pengambilan keputusan hanya berdasarkan intuisi dan menyulitkan ekspansi.
Selanjutnya, mitos kedua yang menyatakan, pinjaman modal susah didapat. Realita (Keterbatasan Literasi): Walau 32 persen menyebut modal sebagai tantangan utama dan 50 persen merasa kesulitan meminjam dana dari bank.

Akar masalahnya adalah literasi. Terdapat 26 persen pelaku yang tidak paham cara mengajukan pinjaman dan 19 persen tidak memiliki akses lembaga keuangan. Bank menilai kelayakan berdasarkan data tertulis (laporan keuangan dan arus kas), bukan sekadar potensi usaha.
Kemudian pada mitos, harga produk makin mahal (sebagai solusi untung). Realita (Tantangan SDM & Efisiensi): Mengerek harga berisiko karena 20 persen konsumen memiliki tipe sensitif harga. Tantangan sesungguhnya adalah Manajemen SDM (35 persen).
Sebanyak 67 persen UMKM mikro hanya memiliki 1-2 karyawan yang harus merangkap banyak fungsi yang memicu masalah kecepatan pelayanan (55 persen) saat jam sibuk. Menambah karyawan berarti menambah biaya.
‘’Sehingga solusi realistisnya adalah mengatur SOP dan menggunakan peralatan untuk mengurangi proses manual,’’ ujar Vina. Demikian juga dengan Mitos: mempunyai omzet besar (sudah pasti aman).
Realita di lapangan (The Hidden Cost): Omzet besar bisa menguap habis karena ancaman biaya tersembunyi (The Hidden Cost) akibat kelalaian operasional. Sering terjadi Premature Asset Death dimana alat rusak dalam 1 tahun karena salah penggunaan oleh pelaku usaha/ karyawannya.

Hal ini memicu Double Financial Loss: bukan hanya keluar biaya servis, tapi bahan baku rusak dan operasional berhenti (total loss), yang berujung pada trauma finansial. Mitos kelima harus pakai peralatan mahal.
Realita (Peralatan Tepat Guna): Kuncinya bukan pada ‘harga mahal’, melainkan investasi alat yang tepat. Saat ini, 60 persen UMKM belum memiliki produk elektronik pendukung. Padahal 40 persen UMKM yang sudah menggunakannya merasakan peningkatan kecepatan pelayanan (68 persen) dan efisiensi bahan baku (50 persen).
Sayangnya, 42 persen UMKM salah langkah dengan membeli elektronik sekadar karena faktor harga termurah, mengabaikan aspek penting seperti garansi (27 persen) dan daya tahan (24 persen).
Sedangkan Definisi Baru UMKM ‘Naik Level’ Berdasarkan temuan tersebut, Polytron meredefinisikan ‘Naik Level’ menjadi 4 pilar yang terukur. Yakni, dengan konsep: memikirkan identitas usaha, kenyamanan pelanggan, dan kesan profesional meski dalam skala rumahan.
Selanjutnya dengan system, menggantikan kerja manual secara perlahan dengan sistem digital yang minim kesalahan. Dengan asset, berpikir jangka panjang dengan memilih aset yang bisa menjadi pegangan usaha dalam waktu lama.
Yang terakhir ekspansi, membuka peluang baru dan diversifikasi tanpa membuat usaha yang sudah berjalan keteteran. (bw)











