World Heart Day…., Dokter ingatkan Pentingnya Resusitasi Jantung Paru

Talk show peringatan World Heart Day 2026 (Hari Jantung se-Dunia) yang digelar RS Kemenkes Surabaya, Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) serta Yayasan Jantung Indonesia. Minggu (27/9/2026). (foto/har)

Surabaya, (pawartajatim.com) – Henti jantung dapat merenggut nyawa dalam hitungan menit jika tidak segera mendapat pertolongan. Dalam kondisi tersebut, tindakan cepat berupa resusitasi jantung paru/RJP atau cardiopulmonary resuscitation/CPR menjadi langkah penting untuk menjaga aliran darah dan oksigen ke otak.

Hal tersebut menjadi bahasan dalam peringatan World Heart Day 2026 (Hari Jantung se-Dunia) yang digelar RS Kemenkes Surabaya, Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) serta Yayasan Jantung Indonesia. Minggu (27/9/2026).

World Heart Day 2026 adalah kampanye global tahunan yang diperingati setiap 29 September untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia mengenai pentingnya pencegahan penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke).

Dokter Agus Subagyo, yang mewakili Yayasan Jantung Indonesia Jawa Timur/Jatim, menerangkan seseorang yang mengalami henti jantung harus segera mendapatkan pertolongan, terutama melalui kompresi dada.

Menurut dia, ketika jantung berhenti memompa darah, pasokan oksigen ke otak juga terhenti. Jika kondisi tersebut dibiarkan selama beberapa menit, risiko kerusakan otak permanen semakin besar.

“Detik jantung berhenti itu sangat cepat reaksinya. Tiga sampai lima menit harus sudah mendapat kompresi,” kata dr Agus. Ia menekankan, agar masyarakat perlu mengenali tanda-tanda henti jantung.

Seperti seseorang yang tiba-tiba tidak bergerak, tidak merespons, dan tidak bernapas secara normal. Dalam situasi tersebut, orang di sekitar korban harus segera meminta bantuan dan menghubungi layanan darurat medis.

Dr Agus manambahkan, jika terjadi hal tersebut, masyarakat segera menghubungi layanan ambulans 118 jika tersedia, sembari melakukan pertolongan pertama. “Kita berharap masyarakat bisa hidup sehat, terutama dalam menjaga jantung,” tegas dr Agus.

Sementara itu, Direktur Utama/Dirut RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha M.L Siahaan, menyampaikan peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya mengingatkan pentingnya mengenali gejala awal penyakit kardiovaskular gangguan pada sistem peredaran darah yang meliputi jantung dan pembuluh darah. Serta tidak mengabaikan sinyal-sinyal yang dikirimkan tubuh.

“Harapan kita agar masyarakat dapat hidup sehat, terutama dalam menjaga jantung,” tandasnya. Sementara itu, dr. Martha menambahkan, Langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh setiap orang sehari-hari.

Pertama, berhenti merokok dan menjauhi paparan asap rokok. Berikutnya, menerapkan pola makan bergizi seimbang dengan mengurangi asupan gula, garam, dan lemak jenuh. Serta rutin beraktivitas fisik atau berolahraga minimal 30 menit setiap hari.

Selain itu, masyarakat dihimbau untuk mampu mengelola stres dengan baik. Mempunyai waktu istirahat cukup, serta  melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar kondisi jantung dapat dipantau sejak dini.

“Pesan yang disampailan pada peringatan Hari Jantung se-Dunia di RS Kemenkes Surabaya, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa penyakit jantung dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan hidup yang sederhana tetapi tetap konsisten,” tegas dr. Martha M.L Siahaan. (har)