
Nasib seseorang siapa sangka. Demikian juga dengan pemuda Bali yang Bernama Kadek Surya Prasetya Wiguna, dari karyawan Bank kemudian berhenti dan meneruskan usaha orang tuanya di Desa Tua, Belayu, Tabanan. Kini, pemuda ini menjadi pengusaha sukses yang membawahi ratusan Petani Kakao dan menjadi bos besar PT Cau Coklat Internasional, yang memproduksi cokelat di pabrik miliknya di Banjar Cau.
Dari keuletannya itulah, tak disangka ada kunjungan rombongan Otoritas Jasa Keuangan/OJK dan PT Bank Pembangunan Daerah Bali/BPD di Kebun Kakao di Banjar Cau, Desa Tua, Belayu, Tabanan, Kamis (17/9/2026), begitu berkesan.
Mereka yang menghadiri pendatanganan kerjasama (PKS) dengan petani kakao Tabanan ini memperoleh penjelasan sangat komplit. Mulai dari pembibitan kakao hingga diolah menjadi cokelat di pabriknya di Banjar Cau.
Semuanya berkat penjesalan petani muda milenial yang enerjik yakni Kadek Surya Prasetya Wiguna. Pemuda kelahiran Denpasar ini begitu gamblang memaparkan proses perjalanan berkebun kakao.
Mulai dari mempersiapkan bibit, menanam, memelihara, memupuk, hingga memanen buah kakao yang matang. Ketua OJK Bali Parjiman dan Direktur Kredit BPD Bali, Made Lestara Wiguna, bahkan sempat memetik dan mencicipi biji kakao yang matang.
‘’Rasanya manis dan enak,’’ kata Parjiman, yang diamini Lestara. Sejumlah wartawan yang hadir dalam peninjauan lapangan ini pun sempat mencoba biji kakao secara bergantian. ‘’Kakao warna hijau rasanya manis-manis asem.
Sedangkan yang kemerah-merahan rasanya manis tok,’’ ujar Widya, wartawati Berita Dewata, yang diikuti rekannya, Ali Wibowo, wartawan TiviBali. Sekadar diketahui, sebelum menekuni tanaman kakao di kampungnya, Cau, Belayu, Tabanan, Kadek Surya awalnya berkarier di dunia perbankan.
Tepatnya di BRI. Dalam perjalanan waktu, dia ‘’dipaksa’’ resign (berhenti) sebagai bankir oleh orangtuanya supaya pulang kampung di Cau untuk melanjutkan pabrik cokelat yang kurang terurus.
Dengan rela hati, pemuda berusia 39 tahun ini lalu pulang ke tanah kelahiran orangtuanya untuk membangun kembali pabrik cokelat warisan tersebut. Berkat kerja keras, tekun, dan belajar secara otodidak, Kadek Surya, akhirnya berhasil membangun pabrik cokelat modern bernama PT Cokelat Cau Internasional hingga berkembang pesat sampai sekarang.
Berkat kerja keras dan kepeloporannya pula, Kadek Surya kemudian dinobatkan menjadi Duta Petani Milenial oleh Kementerian Pertanian. Tak tanggung-tanggung pabrik cokelat yang ditekuni Kadek Surya sekarang mampu memberdayakan hingga 600 petani kakao di Tabanan maupun Jembrana.

Dari jumlah itu, sebanyak 200 petani di antaranya sudah mengantongi sertifikat organik. Sekarang PT Cau Cokelat Internasional sebagai offtaker (pihak atau perusahaan sebagai pembeli tetap yang siap menampung dan menyerap hasil produksi produsen) bertekad keras menjadikan kakao Bali sebagai salah satu produk unggulan Tabanan yang terbaik di dunia.
Ke-600 petani yang tersebar di Tabanan dan Jembrana menyuplai buah kakao untuk diolah menjadi cokelat yang dikemas menarik bernama Cau Chocolate. Pemasarannya tidak hanya di seluruh Bali, namun juga ke tingkat nasional dan internasional (Eropa dan Australia).
Di hadapan Kepala OJK Bali, Parjiman dan hadirin lainnya, Kadek Surya memaparkan bahwa pabrik cokelat yang dikelolanya membutuhkan sekitar 350 ton kakao per tahun. Sedangkan kapasitas pengolahan setiap hari minimal 1 ton.
Sebagai offtaker, Kadek Surya, mesti menggandeng ratusan petani kakao. PT Cau Coklat Internasional, menurut Kadek Surya, mampu mengolah sekitar1-2 ton kakao per hari. Dengan kapasitas tersebut, kebutuhan bahan baku kakao untuk pabrik ini mencapai sekitar 350 ton per tahun.
Ditanya mengenai pabrik modern pengolah kakao menjadi cokelat miliknya, Kadek Surya menyebut awalnya hanya seharga Rp 1 miliar. Seiring perjalanan waktu dan kemampuan, dia sekarang punya pabrik yang komplit seharga dibawah Rp 10 miliar.
Namun Kadek Surya, tidak mau menyebut angka pastinya. Mesin itu dibeli di Tiongkok dan Eropa. Dia kini mempekerjakan antara 160 hingga 170 tenaga kerja. Sedangkan mengenai omzet, pada Desember 2025 saja dia mengaku memperoleh di atas Rp 1 miliar.
Pihaknya juga terus menggandeng lebih banyak petani kakao untuk memenuhi kebutuhan pabrik agar tetap eksis beroperasi. Selama ini, luas lahan yang dikelola para petani berbeda-beda. Mulai 20 are hingga 1 hektare.
Setelah kakao diolah menjadi cokelat bermerk, tantangan berikutnya yang dihadapi Kadek Surya yakni pemasaran. Syukur dia sebagai offtaker mempunya tim yang cukup kuat untuk penetrasi pasar.
Pihaknya yakin bahwa produk cokelat ini pasti berjalan dengan konsep menjaga branding, packaging, serta mengomunikasikan keunikan cokelat Tabanan dengan di Jawa dan Papua. Keunikan ini pula yang diangkat Kadek Surya menjadi branding kuat Tabanan dengan konsep premium the taste of paradise.
‘’Konsep the taste of paradise. Artinya cokelat seperti berasa di surga,’’ tandasnya. Dibagian lain, Pemkab Tabanan, OJK Bali, perbankan, dan lembaga penjamin, juga mendorong pembiayaan para petani untuk terus mengembangkan komoditas kakao di Bali.
Sehingga terjadi penguatan ekonomi daerah. Menurut Kepala OJK Bali Parjiman, dalam skema ini, OJK bekerjasama dengan BPD Bali yang memberi fasilitas pembiayaan. Sedangkan PT Jamkrida Bali Mandara berperan sebagai penjamin kredit.
Disamping itu perlindungan bagi petani diberikan melalui BPJS Ketenagakerjaan untuk perlindungan bila terjadi kecelakaan kerja. Pengembangan kakao tahun 2024-2025 juga dilakukan OJK Bali bersama kelompok tani di Tabanan dan Jembrana.
Saat itu disalurkan dana dari BPD Bali senilai Rp 3,69 miliar dengan NPL 0 kepada debitur 16 petani. Hal tersebut merupakan program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED). OJK sendiri sebagai orkestrasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Pengembangan 2026 terus diperluas di Tabanan melalui penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) dengan Kelompok Tani Bumi Lestari, Kelompok Tani Werdi Bhuana, dan Kelompok Tani Kakao Forestry.
Pasca-PKS ini, PT BPD Bali lalu melakukan berbagai upaya guna menyalurkan kredit sesuai kebutuah para petani. (yad)










