Malang, (pawartajatim.com) – Lonjakan pemanfaatan akal imitasi (AI) terbukti telah merombak pola kerja di ranah media maupun industri kreatif. Dinamika ini menjadi pokok bahasan utama dalam agenda diskusi bertajuk etika penggunaan AI bagi kreator, yang diselenggarakan di Co-Working Space EJSC Bakorwil Malang, Selasa (21/4).
Mengawali forum tersebut, Andhi Prasetyo, selaku Advisor East Java Super Corridor (EJSC) memperkenalkan berbagai fasilitas yang ada. Menurut dia, Pemerintah Provinsi Jawa Timur/Jatim sengaja membangun EJSC sebagai wadah kolaborasi guna menopang ekosistem ekonomi kreatif.
Disamping itu, Andhi juga mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan di area kerja tersebut. “Kalau di sini kita harapkan memang membiasakan ramah lingkungan dengan membawa tumbler dan kotak makan sendiri,” katanya.
Andhi memaparkan, tempat ini ditunjang oleh kehadiran kafe guna memfasilitasi kebutuhan diskusi para pelaku kreatif. Ia menginformasikan, selain di Malang, ruang kolaborasi serupa telah beroperasi di Bojonegoro, Madiun, Jember, serta Pamekasan.
Masuk pada agenda inti, pemaparan materi dibawakan Arvendo Mahardika, S.Pd., M.M., yang hadir dalam kapasitasnya sebagai Koordinator Bidang Teknologi dan Digital (Korbid Digital) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Malang Raya.
Di hadapan para peserta, ia membedah bagaimana AI sukses merevolusi alur produksi konten. Berbagai tugas berat seperti transkripsi wawancara maupun penyusunan naskah yang dulunya memakan waktu panjang, kini bisa dituntaskan dengan sangat cepat berkat kehadiran teknologi tersebut.
Ia mencontohkan betapa efisiennya menyusun materi presentasi saat ini. “Jadi sebenarnya sekarang ini kita tidak hanya bisa membuat desain presentasi menggunakan Canva saja, tapi juga bisa menggunakan aplikasi PowerPoint dengan fitur designer,” jelasnya.
Praktisi media ini kemudian mengomparasikan rutinitas jurnalistik konvensional dengan era modern yang kini telah didukung penuh mesin komputasi cerdas. “Kalau dulu kita harus record terlebih dahulu saat liputan lapangan, butuh tempat tenang, dan menulis manual dengan biaya yang relatif mahal, sekarang sudah ada TurboScribe yang memudahkan proses transkripsi, serta Gemini dan tools AI lainnya,” lanjutnya.
Kendati dimanjakan oleh kemudahan teknologi, ia mewanti-wanti campur tangan manusia sebagai pengontrol kualitas sama sekali tidak bisa dihilangkan. ”Namun tetap ada batasnya. Yaitu kita sebagai korektor, karena secanggih apa pun AI tetap memiliki celah kesalahan,” tambah lulusan Pendidikan Teknik Informatika, Universitas Negeri Malang ini.

Arvendo menerangkan prinsip kerja AI yang menyerap miliaran data dari internet. Situasi inilah yang kemudian memicu lahirnya perdebatan etis di tingkat global, terutama menyangkut tiga aspek krusial.
“AI itu berasal dari miliaran data, dan ada tiga isu yang sedang banyak dibicarakan dunia saat ini. Yaitu, consent, credit, dan tidak adanya kompensasi,” ungkapnya. Tak luput dari sorotannya adalah celah penyalahgunaan kecerdasan buatan untuk memproduksi muatan negatif.
“Bahkan semakin maraknya perkembangan AI tidak jarang digunakan untuk membangun isu atau gambar hoaks,” tambah jebolan Magister Manajemen Inovasi Universitas Ma Chung ini.
Kondisi tersebut, menurut dia, telah memicu keresahan baru terkait jaminan perlindungan bagi para pencipta karya dari ancaman pencurian digital. “Akhirnya, situasi tersebut memunculkan ancaman kekayaan intelektual, ketidakjelasan status hukum AI, dan adanya plagiarisme,” lanjutnya.
Karena itu, ia menyerukan kepada seluruh pelaku kreatif untuk solid mendesak lahirnya payung hukum yang pasti. “Saya rasa kita perlu menyuarakan ini bersama-sama terkait batasan dan kejelasan status hukum penggunaan AI di dunia kreatif,” tegas sosok yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi AboutMalang.com tersebut.
Guna melindungi orisinalitas karya visual dari pembelajaran algoritma AI, ia turut menyosialisasikan penggunaan piranti penangkal. Seperti Nightshade dan Glaze. Ia membagikan kiat aman bagi para kreator saat memamerkan hasil karyanya di internet.
“Kalau upload karya di tempat terbuka, sebisa mungkin gunakan resolusi rendah, dan jika 100 persen dibuat oleh AI maka bukan tanggung jawab kita, tetapi jika AI hanya sebagai alat bantu maka kita memiliki tanggung jawab terhadap karya tersebut,” jelasnya.
Di samping itu, landasan moral dalam pengklaiman hak cipta juga menjadi titik tekan pemaparannya. “Jangan klaim karya AI sebagai karya murni milik Anda, dan gunakan AI hanya sebagian saja. Misal untuk riset topik serta pencarian ide,” pesan Korbid Digital SMSI Malang Raya ini.
Walau begitu, ia menjabarkan bahwa pemanfaatan AI tetap sah-sah saja asalkan proporsi dan penempatannya tepat sasaran. Apakah kita tidak boleh menggunakan AI dalam karya kita? Boleh saja, tetapi dengan Batasan.
‘’Misalnya, hanya untuk deskriptif atau optimasi konten UMKM dengan tetap mengutamakan otoritas dan sentuhan manusia,” lanjutnya. Isu regulasi digital dan pengetatan pengawasan oleh otoritas terkait di Indonesia juga sempat ia singgung dalam diskusi tersebut.
“Platform media sosial sudah mulai menyoroti unggahan yang melanggar hukum di Indonesia. Bahkan, ada pemantauan langsung dari Kementerian Komdigi,” ujarnya. Mengakhiri sesinya, ia memberikan pernyataan pamungkas yang mengingatkan para peserta agar tidak kehilangan arah moral di tengah kemajuan zaman.
“Teknologi adalah alat dan etika adalah kompas,” tegasnya. Ia berharap forum ini bisa memantik kepedulian bersama mengenai tata krama di ruang digital. “Kita sudah seharusnya memulai diskusi tentang etika,” tambahnya.
Saat sesi diskusi interaktif, seorang peserta sempat bertanya mengenai porsi ideal penggunaan alat bantu tersebut. Merespons hal itu, Arvendo menguraikan tiga fase penciptaan konten dan di mana posisi AI sebaiknya diletakkan.
“Framework-nya ada tiga tahap, yaitu pra produksi, produksi, dan pascaproduksi, di mana AI sebaiknya digunakan pada tahap pra produksi saja misalnya, atau pascaproduksi saja untuk menyempurnakan hasilnya,” jelasnya.
Sebagai konklusi, Sekretaris Jaringan Pemred Promedia Jawa Timur/Jatim ini mengingatkan kembali bahwa eksistensi manusia dengan segala kepekaannya tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh kehadiran mesin komputasi dalam proses penciptaan karya. (sam)











