Desa Kejapanan Gempol Pasuruan dalam Panggung Sejarah

Nanang Sutrisno, S.H., M.M. (foto/ist)

Oleh: Nanang Sutrisno, S.H., M.M (Pengurus Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Provinsi Jawa Timur)

Desa Japan atau Japanan dalam masa sekarang disebut Kejapanan, bersama dengan 14 desa lainnya, masuk dalam Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Yaitu Bulusari, Carat, Gempol (desa), Jerukpurut, Karangrejo, Kepulungan, Legok, Ngerong, Randupitu, Sumbersuko, Watukosek, Winong, Wonosari, dan Wonosunyo.

Kejapanan merupakan daerah yang strategis pada masa lalu hingga sekarang. Posisinya yang berada di dekat diperlintasan pertigaan dari arah Mojokerto, Sidoarjo, dan Pasuruan hingga menuju ke bagian Timur seperti Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, hingga Banyuwangi, serta Malang di Selatan.

Menurut Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada 1359 Masehi, salah satu sumber primer sejarah tersebut mencatat tentang peristiwa penting, yaitu perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Lumajang dengan menyinggahi berbagai tempat di Jawa Timur/Jatim, sewaktu berangkat dari Ibukota Majapahit di Antawulan atau Trahwulsn, kini Trowulan..

Disebutkan dalam syair 17 bait 7 baris satu dan dua kemudian syair 17 bait 10 baris I sebagai berikut: Ndan ring caka cacangka naga rawi bhadrapadamasa ri bambwa ning wulan, sang criajasanagara mahasahas ri Lumajang angitun sakhendriyan, tambening kahawan winnarna ri japan kuti-kuti hana sakrbah.

Terjemahannya: Tahun C 1281 (1359 M) bulan Badrapa (Agustus / September) bulan paro terang mulai tampak. Baginda Rajasanagara mengadakan lawatan ke Lumajang, memperhatikan segala yang dilaluinya.

Pertama yang disinggahi adalah Japan dengan asrama dan candi-candi dalam keadaan rusak. Dan waktu kembalinya dari perlawatan syair 58 bait 2 baris 3 menyebutkan: Praty amegil ri Japan nrpati pinapag ing balangghya datang.

Balai Desa Kejapanan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. (foto/ist)

Artinya: Tiba diperistirahatan Japan, barisan tentara datang menjemput baginda. Sebenarnya sejak  zaman akhir Kerajaan Singhasari dan awal Majapahit, nama Kejapanan dan wilayah sekitarnya sudah disebut dalam panggung sejarah.

Misalnya Rabut Carat (Desa Carat), Jasun Mungkal (Watu Kosek) di sebelah Barat, Kepulungan, dan  Kamal Pandak di sebelah Selatan, dan Kedung Peluk Kabupaten  Sidoarjo di sebelah Utara. Nama – nama toponim tersebut merupakan nama daerah yang disinggahi oleh Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit saat menghindari kejaran Pasukan dari Kerajaan Gelang-gelang yang dipimpin oleh Prabu Jayakatwang. Sebelum akhirnya menyeberangi ke Songeneb ( Sumenep) di Pulau Madura.

Memang ada ahli sejarah yang menyebutkan bahwa yang dimaksud Japan adalah Japan di Kecamatan Suko Kabupaten Mojokerto, namun wilayah Kejapanan yang berada diperlintasan jalan menuju ke wilayah timur Pulau Jawa, wilayah ini lebih pas dan masuk akal.

“Sebenarnya ada satu lagi  desa bernama Japan di Jatim yaitu Japan di Kecamatan Gudo Jombang, namun dengan adanya desa yang bernama Wates Negoro di Kecamatan Ngoro Mojokerto, semakin mempertebal keyakinan bahwa Kejapanan yang berada di timur  Wates Negoro adalah daerah Japan yang dimaksud,” kata Wakil Ketua Bidang Manuskrip dan Prasasti Pengurus Badan Kebudayaan Nasional Jatim, Nanang Sutrisno.

Menurut hasil kajian dari Babad Tanah Jawi dan lain-lain oleh lembaga Kebudayaan Nusantara bersama dengan perwakilan Koninklijk Institut Voor Taal, Land, en Volkenkunde, de Graaf   disebutkan bahwa pada 1589 Masehi saat Kesultanan Mataram dipimpin oleh Panembahan Senopati terjadi pertempuran antara pasukan Mataram melawan gabungan pasukan Surabaya dan Raja-raja Jatim, termasuk Pasuruan, dibawah pimpinan Pangeran Surabaya.

Papan nama Balai Desa Kejapanan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. (foto/ist)

Saat itu pasukan Kesultanan Mataram yang dipimpin  Panembahan Senopati berhadapan langsung  dengan  prajurit  Pasuruan di medan pertempuran yang terletak di dekat Japan, dan pertempuran berlanjut sampai di Warungdowo.

Kemudian kembali terjadi  pertempuran yang kedua, kali ini gabungan pasukan Kerajaan Jatim berhasil  dikalahkan oleh pasukan Mataram, dan Adipati Japan gugur setelah mengadakan perlawanan mati-matian.

Atas perintah Raja Mataram yang kagum atas kepahlawanannya, Adipati Japan dimakamkan di Butuh di sebelah Raja Pajang. Kematian dan pemakaman Adipati Japan pada Babad Tanah Jawi tertulis candra sengkala: Resi Guna Pancaning Rat (Orang bijaksana adalah kecerdasan lima dunia) yang berangka 7351 atau tahun Jawa 1537 atau 1615 Masehi.

Keberadaan Kejapanan yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, atau  yang juga disebut sebagai Gunung Pawitra, menurut mitologi Hindu merupakan salah satu gunung suci di Tanah Jawa.

Wajar saja jika  disekitar Gunung Penanggungan bertebaran Candi atau bangunan suci lainnya, seperti Candi Petirtan Belahan atau Sumber Tetek, Candi Petirtan Jolotundo, Candi Jawi di Prigen, dan masih banyak lagi.

“Di Desa Kejapanan sendiri, tidak jauh dari Balai Desa terdapat makam Buyut Penanggungan yang dikeramatkan oleh warga setempat, karena dianggap cikal bakal dan leluhur,” jelas Nanang Sutrisno. Kini Desa Kejapanan bertambah maju, seiring perkembangan jaman.

Selain balai desa, lapangan sepak bola, pasar di Desa Kejapanan juga terdapat toko swalayan dan kantor cabang bank milik pemerintah. Kendaraan umum dan pribadi melintas tiada henti di jalan provinsi yang membelah kawasan Desa Kejapanan.

Walaupun sudah ada jalan Tol yang baru dibangun sebagai  pengganti, volume kendaraan tetap tidak berkurang, bahkan sering kali padat merayap. Penduduk yang tinggal di Desa Kejapanan cukup padat. Dari segi perekonomian juga terbilang maju.

Disekitar Desa Kejapanan, pernah terlahir beberapa tokoh penting yang cukup terkenal. Diantaranya penyanyi dangdut Inul Daratista yang memiliki nama asli Ainur Rokhimah, dan Bagus Hariyanto, Mantan Ketua Karang Taruna Jatim dan Ketua Dewan Pengurus Nasional Forum Pemuda Pelopor (DPN FPP) yang kini sukses menjadi pengusaha film dan Pengurus Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) di Jakarta.

Melihat nilai sejarah, letak dan potensi Desa Kejapanan pada khususnya, Kecamatan Gempol pada umumnya, bersama dengan Kecamatan Prigen, Pandaan, Suwayuwo, dan Purwodadi layak ditingkatkan menjadi Kabupaten sendiri, sehingga pemerataan pembangunan bisa lebih cepat tercapai.

Namun hal ini perlu dilakukan kajian khusus,holder dengan penelitian akademik serta melibatkan semua stake holder atau pemangku kepentingan, sehingga nilai kebermanfaatan bisa dikedepankan. (*)