Dyah Sangramawijaya, Senopati Pamungkas Penerus Wangsa Rajasa

Oleh: Nanang Sutrisno, SH., MM (Wakil Ketua Bidang Manuskrip dan Prasasti Badan Kebudayaan Nasional Jawa Timur/Jatim.

Kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tumapel – Singasari di Malang Jawa Timur/Jatim. Awalnya Majapahit adalah sebuah pedukuhan kecil yang terletak di kawasan Hutan Tarik atau orang Jawa menyebutnya dengan Alas Terik, yang kini masuk wilayah Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo.

Dyah Sangramawijaya atau yang kerap dipanggil dengan sebutan Raden Wijaya dalam bahasa Jawa, dan tuhan Pijaya dalam bahasa Cina Mongol adalah menantu dari Prabu Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Tumapel – Singasari.

Menurut sumber Jawa, dia adalah putra Dyah Lembu Tal, cucu dari Mahisa Cempaka yang bergelar Batara Narasingamurti, sedangkan Mahisa Cempaka adalah Putra Mahisa Wungatelang, anak dari Ken Arok dan Ken Dedes, pendiri dan raja pertama Kerajaan Tumapel – Singasari.

Berbeda dengan sumber Jawa, menurut cerita Sunda, Dyah Lembu Tal atau Dewi Naramurti adalah seorang putri anak dari Mahisa Cempaka yang menikah dengan Rahiang Jayadarma, penguasa Kerajaan Jayagiri yang merupakan bawahan Kerajaan Sunda, terletak diantara Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang Jawa Barat.

Rahiang Jayadarma sendiri adalah putra dari Prabu Guru Darmasiksa, penguasa Kerajaan Sunda. Prabu Darmasiksa berusia cukup panjang, dan pada saat setelah menjadi raja di Majapahit, Raden Wijaya sempat mengunjungi kakeknya tersebut, dan diingatkan bahwa Majapahit dan Sunda adalah saudara satu keturunan, jadi harus saling menghormati, dan saling membantu, dan tidak boleh berperang.

Itulah sebabnya pada saat Majapahit dipimpin oleh Raden Wijaya, Tribuana Tunggadewi, Jayanegara, tidak pernah mengutak atik Kerjaan Sunda, apalagi berniat untuk menaklukannya, mengingat pertalian darah diantara mereka. Bukankah memang darah bisa menyatukan, karena darah lebih kental dari air,

Apapun versi yang berkembang di masyarakat, sosok Raden Wijaya adalah seorang ksatria pinilih tanding, bibit bebet bobotnya jelas, berdarah bangsawan, Trahing Kusuma Rembesing Madu.

Majapahit memiliki cerita panjang pada saat pendiriannya, diawali dengan membuka hutan dan dijadikan pemukiman. Nama Majapahit memang berasal dari cerita buah Maja yang dimakan oleh para pekerja dari Songeneb Madura, yang rasanya pahit, seperti butrowali atau temu ireng.

Buah Maja banyak dijumpai di kawasan wilayah tersebut, maka wajar jika kita menjumpai disana daerah yang memiliki nama awalan Maja atau Mojo, seperti Mojokerto, Mojounggul, Mojowarno, dan masih banyak lagi.

Tradisi membuka atau merambah hutan menjadi kebiasaan oleh penguasa di Jawa ataupun dibelahan bumi lainnya. Prabu Airlangga pada masa berdirinya Kerajaan Kahuripan, juga membuka hutan disekitar Wotan Mas, Ngoro, Watukosek Mojokerto dan Kejapanan Pasuruan.

Dikemudian hari Ki Ageng Pemanahan dan putranya, Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati  juga membuka hutan  Mentaok yang merupakan pemberian dari Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang, setelah berhasil mengalahkan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Kemudian hari Ki Ageng Pemanahan juga dikenal sebagai Ki Gede Mataram. “Orang yang membuka hutan, kemudian membangun dan menguasainya disebut Dahnyang. Jadi Dahnyang bukan setan atau bangsa lelembut. Tetapi mereka adalah orang sakti yang berhasil membuka hutan dan menjadikannya kawasan permukiman..

Kisah Raden Wijaya dimulai dari peperangan dengan Prabu Jayakatwang dari Kerajaan Gelang-gelang yang terletak di Murawan, Dlopo Madiun. Sebagai salah satu senapati utama Tumapel – Singasari,  dia   diperintah oleh Prabu Kertanegara, untuk menghalau serbuan musuh yang sudah sampai Mameling yaitu desa batas kawasan istana.

Selain raja, Prabu Kertanegara adalah ayah mertua nya,  Karena keempat istri Raden Wijaya, yaitu Dyah Tribuaneswari, Dyah Narendraduhita, Jayendradewi Dyah Prajnapramita, Dyah Gayatri Rajapatni, adalah putri Prabu Kertanegara.

Rupanya kekuatan pasukan penyerbu jauh lebih besar, sehingga keadaan berbalik, akhirnya Raden Wijaya dan pasukannya menjadi kocar kacir, diburu pasukan Gelang-gelang yang memiliki semangat balas dendam makantar-kantar.

Keadaan bertambah parah saat Raden Ardharaja  membelot dan memilih memihak kepada ayahnya, Prabu Jayakatwang. Menurut Prasasti Kudadu berangka Tahun 1294 Masehi dan Kidung Panji Wijaya Krama, rute atau jalur pelarian Raden Wijaya dimulai dari Istana Tumapel di Kutaraja Singasari, menghindari musuh sampai Jasun Wungkal (Watu Kosek, Gempol Pasuruan), Kedung Peluk (Candi, Sidoarjo), masuk ke Lembah yang merupakan kawasan hutan di sekitar Sukorejo (Sukorejo, Pasuruan), Kapulungan ( Pasuruan).

Berhenti sejenak di Kabuyutan Kudadu/Kamal Pandak ( Sekitar Candi Jawi, Pandaan, Pasuruan), disana  Raden bersama 12 pengikutnya yang bernama Sora, Gajah Pagon, Wirota Wigati, Medang Dangdi, Rakai Pamandana, dan lain-lain dijamu oleh Ki Buyut Macan Kuping atau juga disebut Macan Kunting, dan Raden Wijaya menitipkan Gajah Pagon salah satu iparnya yang terluka kakinya kena tombak.

Pelarian dilanjutkan menyeberangi sungai Porong, terus menuju Madura melalui Rembang. Soal rute penyeberangan Raden Wijaya ke Madura, ada perbedaan pendapat dari para ahli sejarah. Letaknya tidak di Rembang Pasuruan, tetapi di Rembang yang sekarang bernama Krembangan Surabaya.

“Pendapat ini ada benarnya, karena rute pelarian lebih Masuk akal karena tidak berputar putar dan mudah dipahami,” tambah pegiat sejarah asal Surabaya ini. Misalnya, Jasun Wungkal itu Watu Kosek dekat Gempol, Pamwatan Apajeg adalah Pamotan di Sidoarjo, Kudadu itu Kedurus, dan Rembang adalah Krembangan.

Kedua tempat disebut terakhir berada di Kota Surabaya. Kudadu, Badander, Sukamerta Wringin Pitu, dan Jiwu adalah nama desa yang disebut langsung dalam Negarakertagama, dan memiliki status swatantra atau perdikan. Bahkan, nama Kudadu disebut berkali-kali dalam Prasasti Kudadu dan Kidung Harsawijaya.

Keperkasaan Raden Wijaya dan kegigihan para pengikutnya dalam pelarian , menginspirasi Arswendo Atmowiloto untuk mengabadikannya dalam novel yang berjudul Senopati Pamungkas.

Di Songeneb , Raden Wijaya diterima dengan baik oleh Arya Wiraraja yang memiliki nama lain Banyak Wide, kerabat Kerajaan Singasari yang dipindahtugaskan disana. Arya Wiraraja memberikan nasihat strategi jitu kepada Raden Wijaya untuk pyra pura menyerah kepada Prabu Jayakatwang.

Mengingat hubungan baik Arya Wiraraja dengan Prabu Jayakatwang, penyerahan diri tersebut diterima dengan baik. Bahkan Raden Wijaya diberikan kepercayaan untuk membuka hutan Tarik untuk dijadikan tempat berburu bagi Prabu Jayakatwang.

Pembicaraan hari itu, tepatnya tahun 1293 Masehi kelak dikemudian hari dikenal sebagai Perjanjian Songeneb, dimana Raden Wijaya berjanji akan membagi dua kerajaannya bila berhasil merebut kembali tahta dari tangan Prabu Jayakatwang.

Arya Wiraraja memang dikenal sebagai ahli siasat yang cerdik, dia pernah membantu Prabu Jayakatwang dengan saran dan masukannya saat menyerbu Singasari , kini dia memerankan strategi yang lain yaitu mendukung Raden Wijaya dalam upaya menggulingkan Prabu Jayakatwang.

Entah apa yang diinginkannya? Sampai akhir hayatnya, menggal pada 1309 Masehi, dan dicandikan di Simping, Blitar, Jatim, serta diarcakan sebagai Harihara yaitu perwujudan Dewa Syiwa dan Dewa Wisnu, Raden Wijaya tidak pernah mengtahui bahwa Arya Wiraraja pernah melakukan manuver politik yang nyerempet nyerempet bahaya tersebut.

Sejarah menulis bahwa peran pasukan Madura dari Songeneb sangat besar dalam berdirinya Kerajaan Majapahit, tidak hanya membuka hutan, tetapi juga  mengalahkan prajurit Kadiri dan mengusir pasukan Cathay Nagari dari Kerajaan Mongol yang dipimpi oleh Panglima Ike Mese, Chepi, dan Khausing.

Dimana reputasi mereka sesudah sangat dikenal, mulai Medan perang Asia Tengah hingga Eropah. Banyak kota dan benteng hancur lebur digempur oleh prajurit penunggang kuda terbaik yang dirajai oleh Kaisar Kubilai Khan. (*)